HousingEstate, Jakarta - Banjir yang melanda megapolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dan banyak kota lainnya di Indonesia cukup menganggetkan banyak orang. Terlebih kejadiannya pada momen pergantian tahun 2019-2020. Banyak yang menyebut banjir akan membuat harga properti kembali turun karena wilayah yang terdampak banjir menjadi tidak menarik.

Namun, menurut Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia (CII), sebuah perusahaan riset dan manajemen properti di Jakarta, banjir memang  memiliki dampak terhadap nilai properti tapi sifatnya sangat jangka pendek.

“Khususnya di Jakarta, lahan itu sudah sangat terbatas dan kita bisa lihat di Kelapa Gading (Jakarta Utara) yang langganan banjir, tidak membuat harga properti di sana menjadi turun. Banjir di Jakarta itu seperti risiko yang hanya sesaat dan bisa diantisipasi sehingga wilayah yang banjir sekalipun tidak membuat harga propertinya menjadi jatuh,” katanya kepada housingestate.id saat paparan pasar properti kuartal keempat (Q4) 2019 Jakarta, Surabaya, Bali di Jakarta, Rabu (8/1/2020).

Selain Kelapa Gading, masih banyak contoh kawasan lain di Jakarta yang telah menjadi langganan banjir namun harga propertinya tetap stabil. Sebut saja Kemang di Jakarta Selatan yang menjadi favorit kalangan ekspatriat sebagai tempat hunian, sehingga banyak properti mewah yang disewakan di lokasi ini dan belum ada pemilik yang segera menjual propertinya karena banjir.

Begitu juga di wilayah Pluit, Sunter, dan Tanjung Priok di Jakarta Utara. Kawasan-kawasan ini juga propertinya banyak dicari kalangan yang tidak bisa membeli di Kelapa Gading. “Banjir itu bencana yang risikonya terukur dan bisa diantisipasi selain sifatnya yang hanya sebentar, sehingga tidak sampai membuat orang ingin segera melepas propertinya. Yang perlu kita lakukan adalah identifikasi yang lebih kuat. Misalnya, di wilayah tertentu seperti Depok itu ada yang hujan sebentar saja langsung banjir karena lokasi rumahnya lebih rendah dari kali. Kita lihat apakah di situ akan ada proyek peninggian atau tanggul untuk kalinya. Kalau tidak, kita harus berpikir ulang untuk membeli di lokasi yang seperti ini,” jelasnya.

Aldi Garibaldi, Senior Associate Director Capital Markets and Investment Services CII menambahkan, lokasi hunian secara kulturnya akan selalu dicari karena perkembangan populasi. Orang yang berkeluarga dan memiliki anak, kelak anak-anaknya akan mencari rumah di daerah situ juga atau yang dekat dengan orang tuanya. Itu yang membuat sangat sulit  harga properti turun.

“Selama pertumbuhan populasi lebih besar dari orang tuanya, selama itu pula properti itu akan selalu naik karena nanti anak keturunannya akan cari hunian di sekitaran situ juga. Makanya, Kelapa Gading harganya nggak turun-turun karena lahannya hanya segitu, sementara yang cari banyak. Kecuali kalau yang beranak pinak lebih rendah dari orang tuanya. Kalau seperti itu jadinya seperti di Jepang yang populasinya malah berkurang, baru nilai propertinya mungkin bisa turun,” jelasnya.