HousingEstate, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) terus meningkatkan kemantapan infrastruktur jalan dan jembatan khususnya untuk mendukung jalur transportasi dan akses logistik kebutuhan pokok khususnya selama pandemi Covid-19 ini. Terakhir, Kemenpupera kembali mengoperasionalkan flyover di Jalan Raya Martadinata, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, atau Simpang Gaplek.

Lokasi flyover Simpang Gaplek ini berada di jalan nasional yang sangat strategis karena berbatasan dengan Jakarta, Tangsel, Depok, dan Bogor.  Menurut Menpupera Basuki Hadimuljono, flyover Simpang Gaplek ini merupakan satu kesatuan fungsi untuk mewujudkan infrastruktur jaringan jalan primer yang menghubungkan antar pusat kegiatan nasional (PKN) dengan pusat kegiatan wilayah (PKW).

“Flyover di Simpang Gaplek ini bertujuan untuk mengurangi kemacetan di persimpangan jalan nasional dan jalan provinsi sehingga bisa meningkatkan aksesibilitas pengguna jalan dan mendukung distribusi logistik sehingga bisa berdampak langsung pada peningkatan laju perekonomian masyarakat khususnya saat wabah sekarang ini,” ujarnya dalam siaran pers yang diterbitkan di Jakarta, Sabtu (16/5).

Flyover Martadinata ini dibangun oleh Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) VI Jakarta dan Ditjen Bina Marga Kemenpupera. Flyover ini memiliki panjang 983,5 m dan lebar 35 m dengan biaya pembangunan yang bersumber dari APBN sebesar Rp79,9 miliar. Saat ini progres fisiknya telah mencapai 100 persen dan sudah mulai bisa digunakan sejak pekan ini.

Flyover ini dibangun menggunakan teknologi corrugated mortar busa dengan mengombinasikan dua bahan untuk struktur bangunan atas jembatan yaitu baja struktur bergelombang dengan material ringan mortar busa. Pemanfaatan mortar busa merupakan optimalisasi penggunaan busa (foam) dengan mortar konvensional yaitu campuran pasir, semen, dan air berkekuatan tinggi sehingga ideal menjadi dasar atau perkerasan jalan.

Selain itu, penerapan bahan maupun teknologi ini bisa lebih menghemat biaya selain keunggulan mortar busa yang lebih efsien waktu pengerjaannya dibandingkan dengan konstruksi konvensional dengan efisiensi mencapai 40 persen. Metode ini juga lebih ramah lingkungan karena menggunakan lebih sedikit material konstruksi terutama dari bahan alam.

Lebih jauh lagi, pemanfaatan teknologi mortar busa ini juga telah diterapkan di beberapa flyover Indonesia seperti di flyover Antapani Bandung yang merupakan pilot project teknologi mortar busa ini. Selain itu flyover di Klonengan Tegal serta Manahan dan Purwosari di Solo juga menggunakan teknologi ini.

“Saat ini flyover Simpang Gampek sudah kita selesaikan dan tengah diuji coba lalu lintas (open traffic). Fungsi flyover ini sangat strategis karena dampak langsungnya sangat luas dengan batas-batas wilayah Jakarta-Banten, Gandaria-Depok, maupun Ciputat-Bogor sehingga menjadi satu kesatuan fungsi wilayah yang cukup luas,” imbuh Basuki.

close
GRATIS | Majalah HousingEstate