HousingEstate, Jakarta - Meskipun sudah banyak apartemen yang dibangun, tapi masih banyak orang yang belum mengetahui berapa biayanya jika tinggal di apartemen. Kali ini akan mengetengahkan beberapa pengalaman para pemilik apartemen mengenai biaya yang  dikeluarkan saat tinggal di apartemen yang sangat bervariasi tergantung luas unit hunian, tipe dan lokasi apartemen, kebijakan developer atau pengelola, serta gaya hidup penghuni. Sebagian biaya seperti service charge (iuran pengelolaan), tagihan listrik dan air, harus tetap dibayar kendati apartemen tidak dihuni atau tidak ada yang menyewa.

Seorang ibu warga Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang meminta namanya tidak ditulis, kepada HousingEstate menyatakan, untuk unit apartemen seluas 120 m2 di apartemen Taman Rasuna, Kuningan, Jakarta Selatan, yang dibelinya tahun 90-an ia harus membayar service charge plus tagihan air dan listrik Rp3 jutaan/bulan. Ia mengaku berat membayarnya karena sudah lebih dari enam bulan terakhir apartemen itu belum mendapatkan penyewa baru. “Sebelumnya disewa ekspatriat Jepang,” katanya.

Fany Natalia, perempuan yang menikah tahun 2013 dan suaminya yang tinggal di apartemen dua kamar di Bassura City (4 ha/7 menara), Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur, tahun 2016 misalnya. Setiap bulan mengeluarkan biaya pengelolaan Rp390 ribu, air bersih Rp70-80 ribu, listrik (1.300 watt) Rp270-300 ribu, dan parkir mobil Rp200 ribu. Total sekitar Rp1 juta/bulan. Kompensasinya, ia dan suaminya lebih mudah dan murah mencapai tempat kerja di pusat bisnis utama Jakarta dibanding tinggal di rumah tapak di pinggir kota.

“Bisa pakai busway atau transportasi online, tidak harus kendaraan pribadi,” katanya. Dengan biaya sebesar itu ia juga bisa memanfaatkan aneka fasilitas di apartemen secara gratis seperti gym, kolam renang, trek joging, dan lain-lain. “Kalau dihitung betul, tinggal di apartemen lebih murah dan efektif (dibanding di rumah biasa di pinggir kota). Tapi, memang ini akan berubah juga, karena saya baru punya bayi. Unit apartemen terlalu kecil untuk membesarkan anak. Kami mulai berpikir membeli rumah (tapak),” jelasnya.

Wulan Suling, staf sebuah perusahaan PR agency di Jakarta, yang menghuni apartemen dua kamar seluas 50 m2 di Pakubuwono Terrace, Jl Ciledug Raya, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, setiap bulan membayar biaya pengelolaan Rp700 ribu, biaya listrik dan air Rp500–700 ribu. Apartemen yang dibeli Rp500 juta itu mulai dihuninya tahun 2015. Bandingkan dengan iuran pengelolaan lingkungan (IPL) di klaster rumah menengah atas yang rata-rata hanya Rp400–500 ribu per bulan, dengan tagihan listrik dan air juga jauh lebih rendah untuk luas hunian yang jauh lebih besar. “Biaya listrik dan air saya tekan seminimal mungkin dengan mematikan listrik yang tidak dipakai. Saya juga tidak pakai microwave dan coffee maker, tapi diganti oven gas dan alat press manual untuk kopi,” jelasnya.

Sementara Evangelina (28 tahun), calon dokter spesialis di FKUI Salemba, yang menghuni apartemen tipe 54 m2 di Menteng Square, Jalan Matraman Raya, Jakarta Pusat, setiap bulan membayar service charge Rp1 juta, listrik dan air Rp700 ribu, dan parkir Rp150 ribu tanpa jaminan pasti mendapat lot parkir. “Parkir bulanan itu cuma supaya kita nggak kena parkir jam-jaman yang Rp4 ribu per jam,” katanya. Untuk menghemat biaya, ia mencuci sendiri pakaiannya dengan mesin cuci. Memasak juga sendiri menggunakan elpiji 12 kg. “Tiga bulan juga nggak habis,” tukasnya.

Sedangkan Fiona (28 tahun), karyawan swasta di Bintaro Jaya, yang menghuni apartemen tipe studio 25 m2 di Bintaro Plaza Residence, Bintaro Jaya, Pondok Aren, Tangerang Selatan (Banten), setiap bulan membayar service charge Rp550 ribu (Rp19.500/m2), air Rp160 ribu, dan listrik Rp850 ribu, total sekitar Rp1,5 juta. “Biaya listrik (1300 VA) tinggi karena kalau weekend saya di rumah. Jadi, AC hidup 24 jam. Saya juga pakai hair dryer,” ungkapnya. Ia jarang memasak sendiri di apartemen kendati tetap menyediakan kompor gas, melainkan memesan makanan dari luar.

“Masak sendiri di apartemen itu menurut saya lebih ribet dan jatuhnya justru lebih mahal. Saya juga nggak pernah sarapan, makan siang saja di kantor. Makan malam pesan pakai ojek online. Sekali makan rata-rata Rp50 ribu. Transpor ke kantor pakai taksi online. Hanya Rp30 ribu pp karena kantor saya dekat, di sektor 7 Bintaro Jaya,” tuturnya. Ia juga mencuci pakaian menggunakan jasa laundry kiloan. Rata-rata 10 kg per dua minggu atau 20-30 potong pakaian. Tarifnya Rp10 ribu per kg. Itu di luar cuci bed cover, selimut, jaket, yang biayanya lebih besar. “Rata-rata saya habis Rp4 juta per bulan untuk service charge, cuci pakaian, makan, dan belanja bulanan kecil-kecilan untuk isi kulkas,” katanya.