Kamis, April 30, 2026
HomeBerita PropertiMenjadikan Taman Sebagai Ruang Sosial Masyarakat

Menjadikan Taman Sebagai Ruang Sosial Masyarakat

Besok, tanggal 22 April 2014 diperingati masyarakat dunia sebagai Hari Bumi. Bumi yang semakin renta karena ulah manusia melalui pembabatan hutan, aktifitas penambangan, alih fungsi lahan, pencemaran, habisnya ruang terbuka di perkotaan, dan lain-lain, perlu mendapat perhatian semua warga bumi.

Berbagai cara bisa ditunjukkan sebagai wujud kecintaan pada bumi, seperti yang dilakukan Greening Indonesia (Greenesia). Dalam rangka peringatan Hari Bumi itu Greenesia yang digagas arsitek lansekap dan pengamat perkotaan Nirwono Joga pada 20 April 2014 mengadakan kegiatan Festival Taman Mataram di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Acara diisi dengan tur atau perjalanan ke taman, workshop, diskusi, dan peluncuran buku Greenesia karya Nirwono Joga.

Taman Mataram
Taman Mataram

Dengan kegiatannya itu Greenesia ingin menghidupkan lagi gaya hidup (life style) di alam terbuka kepada warga urban yang saat ini lebih gemar beraktifitas di dalam ruangan. Mereka lebih senang kongkow di mal ketimbang bermain di taman. Menurut Yudi, sapaan akrab Nirwono, keengganan orang beraktifitas di taman bertolak belakang dengan kian gencarnya revitalisasi taman yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. “Bagaimana mau mendorong pemerintah untuk menambah ruang terbuka hijau (RTH) kalau warga kota tidak menempatkan taman sebagai ruang sosial. Pemerintah akan berpikir untuk apa dibagusin kalau orangnya tidak ada,” ucapnya.

Festival kedua

Selain revitalisasi pemerintah seharusnya juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada warga masyarakat tentang pentingnya beraktifitas di taman. Karena cinta lingkungan salah satunya bisa dimulai melalui persentuhan dengan lingkungan taman.

Taman Mataram yang dijadikan Greenesia untuk memperingati Hari Bumi luasnya 6.300 m2.  Sejak tahun 1972 taman tersebut dijadikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Baru tahun 2012 Pemprov DKI mengembalikan lagi sebagai taman.

Menurut Raharjo (72 tahun), seorang warga Kebayoran Baru, SPBU ini disebut Pom Bensin Fatmawati, merujuk nama ibu negara dan istri Presiden Soekarno yang sempat tinggal di Jl Sriwijaya, satu kawasan dengan Jalan Mataram. Guruh Soekarnoputra, anak pasangan Soekarno dan Fatmawati, pernah mengusulkan agar taman ini dinamakan Taman Fatmawati.

“Bagus juga kalau dinamakan Taman Fatmawati untuk mengenang sekaligus penghormatan terhadap beliau. Taman ini juga bisa jadi percontohan, jangan seperti kawasan Pondok Indah, awalnya mau dibikin seperti Beverly Hills dengan taman-taman di sepanjang jalannya, sekarang jadinya malah pondok tak indah,” ujarnya.

Festival Taman Mataram ini sendiri merupakan kegiatan kedua kali setelah sebelumnya bulan Oktober 2013 dilakukan di Taman Cateleya. “Rencananya kegiatan ini akan rutin digelar enam bulan sekali, semoga akan lebih banyak masyarakat dan komunitas yang terlibat untuk semakin membudayakan lifestyle bertaman,” tandas Yudi.

Mempengaruhi perilaku

Jakarta sendiri mempunyai 1.178 taman. Jumlah yang cukup banyak. Tapi karena kurang sosialisasi banyak warga masyarakat yang belum mengetahui termasuk bagaimana mengaksesnya. Dibanding Bandung  dan Surabaya, Jakarta sebenarnya tidak kalah. “Jumlahnya bisa dibilang cukup, tapi luasnya baru 9,8 persen dari wilayah DKI, masih jauh dari kebutuhan RTH publik sebesar 20 persen,” ujar Yudi.

Menurut Dadang Rukmana, Direktur Perkotaan Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan Umum (PU), di perkotaan idealnya setiap berjalan kaki selama lima menit bertemu RTH. Selain jumlah yang tidak kalah penting adalah kemauan warga mau memanfaatkan taman untuk aktifitas. “Kalau masyarakat sudah terbiasa memanfaatkan RTH (untuk ruang sosial) akan lebih mudah untuk mendorong perluasan RTH. Kita selama ini baru merevitalisasi belum menambah,” katanya.

Dadang mengatakan ada korelasi langsung antara perilaku masyarakat dengan keberadaan RTH. Di lokasi-lokasi yang warganya sering tawuran ternyata di lingkungannya sangat kurang RTH-nya. Kota Yogyakarta yang warganya kalem-kalem RTH-nya mencapai 34 persen. Melbourne dan Vancouver, Kanada, dinilai sebagai kota paling liveable karena  memiliki RTH di atas 50 persen. Yudis

Berita Terkait

Ekonomi

AHY: Pembangunan Infrastruktur untuk Akselerasi Ekonomi Berkelanjutan

Pembangunan infrastruktur masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada...

Belanja Pemerintah Ngegas, Maret Uang Beredar Kembali Meningkat

Uang beredar adalah indikator aktivitas ekonomi. Kenaikan atau penurunan...

Program MBG Dipangkas, Pemerintah Hemat Anggaran Rp50 Triliun Lebih

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menekankan pentingnya sinergi...

Berita Terkini