Selasa, April 21, 2026
HomeNewsEkonomiPenurunan Harga Bapok Berlanjut, Juni 2024 Deflasi Lagi

Penurunan Harga Bapok Berlanjut, Juni 2024 Deflasi Lagi

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Juni 2024 kembali terjadi penurunan harga barang dan jasa (deflasi) secara bulanan (month to month/mtm) dibanding Mei.

Berlanjutnya penurunan harga barang dan jasa itu masih dipicu terutama oleh penurunan harga bahan makanan dan minuman atau bahan pokok (bapok), yang sudah berlangsung sejak pasca lebaran.

“Pada Juni 2024 terjadi deflasi 0,08 persen secara bulanan, atau terjadi penurunan indeks harga konsumen (IHK) dari 106,37 pada Mei 2024 menjadi 106,38 pada Juni 2024,” kata Plt Sekretaris Utama BPS Imam Machdi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (1/78/2024).

Ia menyebutkan, penurunan harga atau deflasi Juni 2024 itu lebih dalam dibanding deflasi Mei 2024. Yaitu, 0,08 persen dibanding 0,03 persen pada Mei 2024.

Karena deflasi itu, inflasi tahunan atau year on year (yoy) Juni 2024 juga menurun menjadi 2,51 persen dibanding Mei 2023 yang tercatat 2,84 persen.

Begitu pula inflasi tahun kalender (year to date/ytd), melandai menjadi 1,07 persen pada Juni 2024 dibanding 1,16 persen pada Mei 2024.

Baca juga: BPS: Deflasi Mei Terutama Karena Menurunnya Harga Beras

Imam menyebutkan, deflasi pada Juni 2024 terutama didorong oleh inflasi kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau. Kelompok tersebut mencatat deflasi 0,49 persen (mtm) dengan andil terhadap deflasi secara keseluruhan 0,14 persen.

Komoditas utama penyumbang deflasi adalah bawang merah dengan andil -0,09 persen, tomat dengan andil deflasi -0,07 persen, dan daging ayam ras dengan andil deflasi -0,05 persen, telur ayam ras -0,02 persen, dan bawang putih -0,01 persen.

Sementara komoditas yang menyumbang inflasi (kenaikan harga) antara lain beras, cabai rawit dan cabai merah dengan andil masing-masing 0,02 persen.

Berikutnya emas perhiasan dan kentang, ketimun, sigaret kretek mesin, tarif angkutan udara, ikan segar dan kopi bubuk dengan andil inflasi masing-masing 0,01 persen.

Berita Terkait

Ekonomi

Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun

Serupa dengan sektor manufaktur yang makin ekspansif selama triwulan...

Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Jumat (17/4/2026), kinerja industri pengolahan...

Beda dengan Fitch dan Moody’s, S&P Nyatakan Prospek Utang RI Tetap Stabil

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar positif dari...

Sepanjang 2025 Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp435 Triliun

Di tengah berbagai tantangan, dan prediksi pertumbuhan ekonomi global...

Berita Terkini