Sabtu, Juli 4, 2026
HomeBerita PropertiBooming Properti 2010-2014 Sulit Terulang

Booming Properti 2010-2014 Sulit Terulang

Banyak kalangan menyebut periode tahun 2010-2014 merupakan tahun yang sangat baik untuk bisnis propeti bahkan hingga disebut periode booming properti. Pada masa itu sebagian besar pengembang yang meluncurkan produk perumahan maupun apartemen  masih berupa gambar  langsung ludes (sold out) dalam waktu singkat.

Menurut Daniel Handojo, Associate Executive Director Century 21 Indonesia, sebuah perusahaan broker property di bawah naungan Ciputra Group, periode booming properti itu menggambarkan situasi dimana produk properti  harganya bisa naik  cepat dalam waktu yang sangat singkat. Akhirnya situasi ini membuat semua orang menyebut kalau beli properti itu pasti untung.

“Sekarang sektor properti disebut lesu khususnya periode 2015-2020. Pendapat itu bisa betul tapi yang sebetulnya terjadi  pasar tengah  memasuki titik keseimbangan baru setelah mengalami kenaikan gila-gilaan di periode 2010-2014. Maka itu periode 2015-2020  tidak bisa dibilang lesu, karena nyatanya sector property masih mengalami pertumbuhan positif, bahkan kalau saya melihat booming properti saat ini tetap terjadi tapi dengan kondisi yang berbeda dan lebih unik,” ujarnya saat bicara di acara Asosiasi Real Estat Indonesia Broker Indonesia (Arebi) melalui aplikasi Zoom beberapa waktu lalu.

Tahun 2020 misalnya, disebut menjadi tahun yang berat karena situasi bisnis yang masih lesu ditambah dengan adanya pandemi Covid-19. Namun kenyataannya, kata Daniel, secara umum sektor properti masih tumbuh. Bahkan pada awal 2020  pasar seken mencatatkan kenaikan mencapai 20 persen dibandingkan periode yang sama 2019.

Pandemi hanya membuat situasi pasar menjadi wait and see khususnya untuk segmen konsumen dari kalangan investor. Di sisi lain, situasi kenaikan tinggi yang terjadi sebelumnya, telah membuat harga properti di lokasi-lokasi tertentu stagnan bahkan cenderung menurun. Hal ini yang dilihat kalangan investor untuk segera membeli.

Untuk transaksi di sektor pasar secondary juga banyak yang tertunda karena pandemi. Pada awal tahun 2020, transaksi yang terjadi sesungguhnya lumayan tinggi dan mulai meningkat hanya periode Maret-April semuanya terhenti karena pandemic, disamping kantor-kantor pertanahan maupun kantor pajak melakukan work from home.

Akhirnya semua transaksi  menumpuk dan kembali bergulir setelah melewati bulan Juni-Juli. Jumlah transaksi yang dibukukan oleh kantor Century21 sendiri telah menyamai transaksi pada periode tahun 2019, tapi yang harus diingat, transaksi yang sama ini pada tahun 2020 dijalani hanya dalam periode enam bulan.

“Booming properti seperti periode 2010-2014 menurut saya akan sulit  terjadi kembali. Tapi periode 2015-2020 yang dibilang lesu  juga sebetulnya tidak  menurun, ada pertumbuhan positif.  Artinya  terjadi booming tapi polanya lebih unik sehingga tidak kita sadari. Perkembangan teknologi maupun konsep digital marketing yang sering membuat properti trending, makin banyak membuat orang  menyadari pentingnya menginvestasikan uangnya di property, khususnya kalangan anak-anak muda,” katanya.

Berita Terkait

Ekonomi

Menengok Dampak Pembangunan IKN yang Bikin Ekonomi Kawasan Tumbuh Hampir 20 Persen

Kajian dampak ekonomi pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) periode...

Perlindungan-Pengembangan UMKM di Hari UMKM Internasional

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memberikan perhatian besar...

Beda dengan PMI Manufaktur, Kemenperin Bilang IKI Juni 2026 Tetap di Fase Ekspansi

Meskipun menghadapi tantangan dari sisi produksi dan permintaan selama...

Melawan Darurat Sampah

Saat ini kita telah memasuki situasi darurat sampah. Untuk...

Berita Terkini