HousingEstate, Jakarta - Banyak cara dilakukan dalam pengembangan property. Salah satunya dengan pola kerja sama antara perusahaan developer dengan pemilik lahan seperti yang dilakukan di perumahan The Golden Stone @Serpong di Jl Pemda Baru, Legok, Tangerang. Perumahan seluas 24 ha ini dikembangkan dengan pola kerja sama operasi (KSO) antara PT Mentari Abadi Sentosa (MAS) sebagai pemilik lahan dengan PT Griya Natura Alam (GNA Group) selaku developer.

Sayang, proyek yang pengembangan dan pemasarannya bagus ini pemegang sahamnya sekarang bersengketa. MAS menggugat GNA Group karena dinilai wanprestasi. Menurut MAS selaku penggungat, proyek yang dikembangkan sejak tahun 2016 ini tidak sesuai ketentuan karena pihak GNA mengambil pengembalian uang muka pembayaran harga pokok tanah (HPT) Rp10 miliar sekaligus, yang seharusnya diambil bertahap di masing-masing klaster.

Manajemen GNA Group sendiri membantah telah melakukan wanprestasi karena setiap perjanjian yang dibuat kedua pihak sejauh ini masih dijalankan. Menurut Direktur Utama GNA Group Gregorius Gun Ho, perjanjian KSO antara GNA dan MAS untuk pengembangan The Golden Stone hingga saat ini masih berlangsung dan telah memberikan kenyamanan kepada konsumen yang telah membeli.

“Terkait adanya kesalahpahaman maupun perselisihan antara GNA dan MAS yang pada saat ini telah dimulai proses penyelesaiannya di Pengadilan Negeri Tangerang, kami bisa membuktikan bahwa sampai saat ini serta rencana pengembangan The Golden Stone telah sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian KSO sehingga semangat kami dalam menyediakan produk perumahan The Golden Stone yang baik bagi para konsumen tidak boleh terganggu.,” ujarnya dalam siaran pers yang diterbitkan Kamis (11/8).

Menurut Gun Ho gugatan tersebut tidak didasari alasan yang sesuai karena pihak GNA telah melaksanakan seluruh proses kerja sama di dalam perjanjian dan melakukan pembayaran secara tepat waktu. Gugatan yang diajukan oleh MAS juga tidak berisikan materi atau hal-hal yang sesuai dengan perjanjian KSO yang telah diselesaikan melalui suatu kesepakatan bersama atau addendum perjanjian KSO antara GNA dan MAS sehingga seharusnya MAS menghormati kesepakatan bersama tersebut.

Seluruh aktivitas bisnis yang dijalankan telah sesuai dengan kesepakatan dengan pembayaran per schedule juga telah ditandatangani kedua belah pihak. Gun Ho mengkhawatirkan perselisihan ini malah merugikan kedua pihak terkait pengembangan proyek The Golden Stone. Kerja sama GNA Group dengan MAS hanya di proyek The Golden Stone dan tidak ada di proyek GNA lainnya.

Perselisihan ini juga harus diselesaikan melalui putusan pengadilan dan tidak bisa dilakukan sepihak dan karena itu GNA masih menjalankan bisnis seperti biasa. Perselisihan membutuhkan pembuktian untuk melihat kebenaran yang sesunguhnya melalui proses penyelesaian perkara perdata di pengadilan dan bila sudah ada putusan pengadilan yang memeroleh kekuatan hukum tetap barulah para pihak dapat mengambil langkah sesuai ketentuan hukum.

Artinya, perjanjian KSO tetap mengikat dan tidak bisa diputuskan sepihak. Sejauh ini pengembangan proyek The Golden Stone masih tetap berjalan dan uang perusahaan juga sehat dan menguntungkan. Seluruh kewajiban pembayaran sudah ada schedule-nya dan memang belum jatuh tempo.

“Ini kan kerja sama KSO dan bukan jual-beli putus sehingga surat-surat juga sebagian masih atas nama MAS. Kami sudah melakukan pembayaran tanah di klaster pertama dan sudah lunas, klaster kedua masih on schedule. Sekali lagi ini bukan jual-beli putus tapi KSO dan pembayaran kita tepat waktu makanya gugatan wanprestasi ini mengada-ada yang malah merugikan penjualan yang turun karena konsumen melihat ada permasalahan ini,” pungkas Gun Ho.