Sabtu, September 5, 2026
HomeNewsEkonomiPenjualan Eceran: Terkontraksi, Meningkat, Lalu Terkontraksi Lagi

Penjualan Eceran: Terkontraksi, Meningkat, Lalu Terkontraksi Lagi

Kinerja penjualan eceran tidak selalu terkait langsung dengan daya beli, melainkan tergantung pada sejumlah event seperti hari raya keagamaan, perayaan ulang tahun negara, libur panjang dan semacam itu.
Karena itu penjualan eceran tak pernah stabil, tapi sangat berfluktuasi mengikuti event.

Hal itu tergambar dari Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dilakukan Bank Indonesia (BI) yang dirumuskan dalam Indeks Penjualan Riil (IPR).

SPE BI September 2024 yang dirilis Rabu (9/10/2024) misalnya, mengungkapkan pada Agustus 2024 IPR mencatat peningkatan.

IPR Agustus 2024 tercatat 215,9 atau tumbuh 5,8 persen secara tahunan (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Juli 2024 sebesar 4,5 persen (yoy).

Pertumbuhan IPR itu terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta bahan bakar kendaraan bermotor.

Secara bulanan (mtm), penjualan eceran Agustus 2024 juga tumbuh 1,7 persen dibanding Juli 2024 yang terkontraksi (minus) 7,2 persen.

“Peningkatan penjualan itu terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, peralatan informasi dan komunikasi, serta perlengkapan rumah tangga lainnya, sejalan dengan meningkatnya permintaan saat event HUT RI yang didukung strategi potongan harga oleh retailer,” tulis BI.

Pada September 2024 kinerja penjualan eceran diprakirakan BI tetap tumbuh. Tecermin dari prakiraan IPR September 2024 sebesar 210,5 atau tumbuh 4,7 persen secara tahunan (yoy).

Kinerja penjualan eceran itu ditopang antara lain oleh kelompok bahan bakar kendaraan bermotor, suku cadang dan aksesori, serta subkelompok sandang.

Baca juga: Juli 2024 Penjualan Eceran Merosot Lagi, Kali Ini Lebih Dalam

Namun secara bulanan (mtm), penjualan eceran September 2024 diprakirakan terkontraksi (minus) 2,5 persen, setelah tumbuh 1,7 persen pada Agustus 2024, seiring menurunnya permintaan setelah berakhirnya program diskon retailer selama event HUT RI.

Dari sisi harga, tekanan inflasi 3 dan 6 bulan mendatang (November 2024 dan Februari 2025) diprakirakan menurun. Tecermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) November 2024 dan Februari 2025 yang tercatat 134,3 dan 155,9.

Lebih rendah dibanding periode sebelumnya sebesar 141,3 dan 166,7, didukung oleh kelancaran distribusi dan ketersediaan barang yang memadai.

Berita Terkait

Ekonomi

Menkeu: Penerimaan Negara Kuat, Juli Defisit Fiskal Baru 0,9 Persen

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, penerimaan negara...

Kemenperin: Agustus Manufaktur RI Masih Ekspansif, S&P Bilang Sebaliknya

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, industri pengolahan atau manufaktur RI...

Agustus Inflasi Kembali Meninggi, Dipicu Kenaikan Harga Bahan Makanan Termasuk Beras

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi...

Berita Terkini