Boyke Gozali: Kami Konservatif Demi Menjaga Reputasi, Kualitas…..
Boyke Gozali, founder PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP/Paradise Indonesia), developer spesialis properti gaya hidup yang dibentuk tahun 2002, menyatakan ia menjalankan perusahaan secara konservatif, tidak terlalu agresif, demi menjaga reputasi, kualitas, servis, dan hubungan baik dengan customer.
“Semua itu value yang harus dijaga, karena (bisnis) ini nggak bisa sesaat, nggak bisa instan. Satu proyek selesai, terus nggak mau tahu. Setiap proyek itu membangun nama baik, reputasi, hubungan, itu terus berulang,” katanya kepada pers usai acara Paradise Indonesia Fun Walk 2023 di fX Mall Sudirman, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (29/10/2023).
Fun walk adalah rangkaian acara INPP merayakan hari jadinya yang ke-21 tahun ini. Pada kesempatan itu INPP juga memperkenalkan logo baru yang mengusung nilai-nilai utama entrepreneurship, passionate, integrity, creative, and collaborative, sekaligus kampanye “Building Tomorrow” sebagai tekad membangun perusahaan menjadi lebih modern, inovatif, dan berkelanjutan. Selain Boyke Gozali, fun walk juga diikuti jajaran direksi INPP lainnya termasuk Anthony Prabowo Susilo, CEO & Presiden Direktur INPP.
Paradise Indonesia adalah pengembang dan pemilik sejumlah hotel dan pusat perbelanjaan dalam berbagai segmen. Selama hampir 20 tahun, perusahaan itu fokus mengembangkan properti komersial yang menghasilkan recurring income (pendapatan berulamng) dari penyewaan itu. Baru beberapa tahun terakhir INPP masuk ke bisnis development dengan menjual properti yang dikembangkannya terutama apartemen. Sampai saat ini menurut Anthony, sekitar 80% pendapatan INPP masih dari recurring income.
Di jajaran hotel, INPP memiliki hotel dalam aneka brand untuk berbagai segmen. Yaitu, Grand Hyatt, Hyatt, Yelo, Harris, ALoft, dan Pop!. Lokasinya tersebar di Jakarta, Bali, Batam, dan Yogyakarta. Sedangkan untuk pusat perbelanjaan atau mall, INPP mengembangkan dan mengoperasikan Plaza Indonesia, FX Mall, Beach Walk Shopping Mall, dan 23Paskal di Jakarta, Bandung, dan Bali, serta yang terbaru yang dilansir minggu lalu di kota ke-8 Mall Semarang23 di Pantai Marina Semarang.
Boyke menyebutkan, bisnis INPP harus berkelanjutan. Untuk itu ia akan mengkombinasikan wisdom generasi tua seperti dirinya, dengan semangat dan kreatifitas anak muda yang banyak menggunakan teknologi, dalam mengelola perusahaan ke depan. “Yang muda kita dorong meraih kesempatan-kesempatan yang lebih baik daripada kita yang tua-tua. Tapi, untuk menentukan arah kebijakan perusahaan saya tetap harus masuk. Wisdom harus terus dihadirkan supaya value dan kultur kita tetap terjaga. Kalau lepas value-nya, bisa berubah nanti. Tentunya value itu dari zaman ke zaman berbeda, kita harus melakukan penyesuaian walaupun tidak bisa langsung,” tuturnya. Ia menambahkan, ke depan INPP akan terus mengembangkan proyek komersial, ritel, hotel, juga apartemen, dan akan menyusul perumahan tapak.
Sejak berdiri tahun 2002, total INPP sudah memiliki 25 proyek. Semua proyek, baik milik sendiri maupun berkolaborasi dengan pengusaha lain atau pemilik lahan, berhasil dikembangkan sesuai target. Tidak ada proyek yang gagal, di-cancel, apalagi mangkrak, bahkan saat pandemi Covid-19 sekalipun. “INPP one hundred completion track record,” kata Anthony dalam sebuah pertemuan dengan pers sebelumnya.
Karena semua proyek INPP berupa properti komersial yang mengandalkan pendapatan dari penyewaan, proyek dibangun dulu sampai tuntas dengan dana sendiri atau hasil kolaborasi dengan pihak lain. Setelah jadi, baru INPP menerima pendapatan. “Kami tidak menarik duit konsumen dengan menjual NUP (nomor urut pemesanan) seperti pada properti development,” kata Anthony. Baru beberapa tahun terakhir INPP masuk ke properti development yang unit-unitnya dijual putus berupa apartemen strata.
Dalam waktu dekat INPP akan melebarkan saya ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Di proyek ke-26 ini kepemilikannya 100% INPP. Di lahan seluas 8 ha dekat IKN itu, sesuai DNA INPP, akan dikembangkan proyek komersial gaya hidup dan perhotelan. Studi kelayakan sedang dilakukan. Saat ini kapitalisasi pasar INPP disebut Anthony mencapai 6-7 triliun dengan total aset sekitar Rp10 triliun. Aset terbanyak secara value masih di Jakarta dan Bali.
Pasca pandemi Covid-19 sejak triwulan akhir 2022, bisnis INPP terutama perhotelan, langsung melejit terutama di Bali, menyusul bergairahnya bisnis pariwisata setelah selama hampir 3 tahun orang terkurung di rumah masing-masing. “Sejak semester dua 2022 okupansi hotel kami sudah di atas 80 persen,” kata Anthony. Tahun ini sampai triwulan 3 pendapatan hotel INPP melesat 42% dengan dan tarif sewa kamar sudah naik antara 10-15%.