Konsumsi Masyarakat Terbatas, Tapi Kredit Masih Tumbuh Double Digit
Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), 18-19 Februari 2025, yang dipublikasikan akhir pekan ini mengungkapkan, penyaluran kredit perbankan tetap kuat mendukung pertumbuhan ekonomi.
Pada Januari 2025 pertumbuhan kredit mencapai 10,27 persen secara tahunan (yoy), didorong baik oleh sisi penawaran maupun permintaan.
Dari sisi penawaran, pertumbuhan kredit ditopang oleh realokasi alat likuid ke kredit oleh perbankan yang berlanjut, dukungan pendanaan dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang masih terjaga, serta ketersediaan likuiditas yang tetap baik sejalan dengan implementasi penguatan Kebijakan Insentif Makroprudensial (KLM).
Dari sisi permintaan, pertumbuhan kredit didukung oleh kinerja penjualan korporasi yang masih tumbuh positif di tengah konsumsi rumah tangga yang terbatas.
Berdasarkan kelompok penggunaan, pertumbuhan kredit modal kerja, kredit investasi, dan kredit konsumsi, masing-masing tercatat 8,40 persen (yoy), 13,22 persen (yoy), dan 10,37 persen (yoy). Pembiayaan syariah tumbuh 9,71 persen (yoy), dan kredit UMKM 2,88 persen (yoy).
“Ke depan Bank Indonesia akan terus mendorong pertumbuhan kredit, melalui berbagai kebijakan makroprudensial yang akomodatif sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo saat menyampaikan hasil RDG tersebut.
Baca juga: Penyaluran Kredit 2024 Stagnan, BI Bilang Tahun Ini Akan Meningkat
Likuiditas perbankan disebut BI memadai, sejalan dengan implementasi penguatan KLM serta didukung oleh efisiensi perbankan dalam pembentukan harga (bunga) yang makin baik dengan kebijakan transparansi SBDK (Suku Bunga Dasar Kredit).
Suku bunga deposito 1 bulan dan suku bunga kredit pada Januari 2025 tercatat masing-masing sebesar 4,81 persen dan 9,20 persen, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya.
Ketahanan perbankan juga tetap kuat. Likuiditas memadai, tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) Januari 2025 yang tinggi sebesar 26,03 persen.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Desember 2024 juga tercatat tinggi sebesar 26,69 persen, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) Desember 2024 terjaga rendah, sebesar 2,08 persen (bruto) dan 0,74 persen (neto).
“Hasil stress-test Bank Indonesia menunjukkan, ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, ditopang kemampuan membayar dan profitabilitas korporasi yang terjaga,” tutup Perry.