HousingEstate, Jakarta - Digital branding merupakan keniscayaan termasuk bagi perusahaan developer pada masa kini. Tanpa upaya memposisikannya secara seksama di pasar melalui kanal digital atau platform online, sebuah merek atau proyek bisa makin tidak dikenal. Hal itu dikatakan Mart Polman, Managing Director situs pencarian atau jual beli properti online Lamudi.co.id, saat membuka diskusi “The Future Branding, How to Connect with Consumers” di Jakarta, Kamis (31/10/2019), yang diadakan Lamudi bersama Facebook Indonesia.

Berbicara dalam diskusi yang dipandu Yoga Priyautama (Commercial Director Lamudi) itu Aldo Rambie (client partner Facebook Indonesia), Peony Tang (Direktur superblok South City, Pondok Cabe, Tangerang Selatan), dan Nicoline Patricia (influencer atau creator).

“Sekarang pasar didominasi milenial. Milenial itu (budayanya) online, digital. BUdaya itu meluas ke semua segmen. Pola konsumsi digital terus meningkat, mencapai 80 persen dalam dua tahun terakhir. Karena itu digital branding sebagai bagian dari digital marketing menjadi keniscayaan termasuk bagi perusahaan properti, supaya proyek-proyeknya dipercaya dan memiliki keunggulan di pasar,” katanya.

Ia mencontohkan Lamudi yang didirikan tahun 2014. Tahun lalu pendapatannya bisa tumbuh 300 persen dibanding 2017. Tahun 2018 platformnya telah digunakan oleh lebih dari 10.000 orang mulai dari perorangan, agen real estate, sampai developer, dengan trafik (kunjungan) mencapai 1,5 juta per bulan. Lamudi sudah melayani lebih dari 100 developer (proyek) di seluruh Indonesia. Tahun ini targetnya kemitraan itu meningkat menjadi 150 proyek.

“Sampai saat ini target itu sudah tercapai,” katanya kepada HousingEstate setelah diskusi. Jangan heran kalau awalnya karyawannya hanya 20-an orang, kini sudah lebih dari 130 orang, hampir semuanya kaum muda digital natives.

Makin banyaknya developer yang bermitra dengan Lamudi itu menunjukkan, digital branding efektif menaikkan positioning (eksistensi) proyek dan awareness (kepedulian) pasar terhadap proyek dan developernya.

Kendati demikian 150 developer itu masih terlalu sedikit dibanding seluruh developer yang ada. Apalagi, jumlah developer akan terus bertambah menyusul makin berkembangnya perekonomian dan pesatnya pembangunan infrastruktur.

Dari seluruh developer itu, masih sedikit yang memanfaatkan platform digital sebagai strategi pemasaran dan sarana utama berkomunikasi dengan pasar. Sebagian besar fokus pada digital marketing untuk meraih penjualan di tengah pasar yang lesu. Padahal, tanpa disertai digital branding, digital marketing itu menjadi tidak atau kurang efektif.

Karena itu Lamudi pun menawarkan jasa strategi pemasaran digital (digital marketing) kepada perusahaan developer termasuk digital branding. Salah satu alasan developer belum mau menerapkan strategi pemasaran digital yang terintegrasi, adalah perhitungan return-nya yang masih abstrak dibanding investasi yang harus mereka keluarkan untuk kampanye online itu.

“Target dari setiap kampanye digital itu spesifik. Karena itu kita perlu berdiskusi dulu dengan perhitungan yang cermat, supaya punya pemahaman yang sama terkait apa yang ingin dicapai dari kampanye digital tersebut. Kami punya banyak talenta berbakat yang siap membantu developer mencapai tujuan-tujuannya melalui platform digital,” ujar Mart.