Rabu, Mei 13, 2026
HomeBerita PropertiTriss Living, Hunian Eksklusif Tanpa Taman

Triss Living, Hunian Eksklusif Tanpa Taman

Sekecil apapun sebuah rumah umumnya tetap dibekali taman untuk keindahan, resapan, dan menanam pohon peneduh. Tapi tidak demikian di perumahan Triss Living (1 ha) di Jl Delima Raya, Rempoa, Tangerang Selatan, Banten. Sisa tanah di bagian depan dan belakang rumah diperkeras demi alasan kepraktisan dan fungsional.

Triss Living
Triss Living

Menurut pengembangnya, memaksakan taman di lahan sempit jadinya malah jelek. Tanaman tidak berkembang dan  rumputnya botak. “Ngapain memberikan yang jelek ke konsumen. Taman itu cocoknya untuk kavling di atas 300 m2, kalau kecil lebih baik lahannya difungsionalkan,” ujar Trisni Puspitaningtyas, pengembang Triss Living, di Tangerang Selatan, Rabu (26/3).

Dengan perkerasan, bagian depan rumah jadi lebih leluasa untuk menampung dua buah mobil. Sementara bagian belakang bisa ditambahkan untuk ruang keluarga. Trisni juga mengatakan dengan diperkeras bukan berarti akan terjadi genangan. Selama dirancang dengan baik, leveling-nya pas, saluran memadai, air tetap mengalir. Konsekwensinya area rumah tidak memiliki resapan sama sekali, air hujan dan limbah rumah tangga seluruhnya dialirkan ke saluran pembuangan.

Sebenarnya akan lebih baik apabila pengembangan perumahan selalu menyisakan ruang terbuka secukupnya. Ruang terbuka akan meresapkan air dan mencegah air tumpah seluruhnya ke saluran pembuangan yang dapat memicu banjir dan genangan di lingkungan sekitar. Hal ini sudah terbukti saat banjir di Jakarta awal tahun ini yang salah satu sebabnya karena jeleknya saluran pembuangan, baik karena tidak ada pemeliharaan, tertutup sampah, atau hilang sama sekali.

Pengembangan mini realestat di Jakarta dan sekitarnya kerap menghadapi problem keterbatasan lahan. Dengan lahan terbatas sebagian pengembang memilih menjadikan semua areanya dibangun rumah sehingga nilai ekonomisnya dapat tercapai. Fokus pengembang  pada penataan rumah dan layout.

Triss Living yang sasarannya pasangan muda menawarkan hunian dengan konsep simpel fungsional. Selain cocok untuk segmen yang dituju maintenance-nya juga lebih mudah. Desainnya mengusung gaya klasik modern. Fasadnya memadukan unsur tradisional-modern, seperti penggunaan krepyak atau jendela kuno zaman Belanda yang kemudian banyak diaplikasikan pada rumah tradisional Betawi.

Mini realestat yang sudah membangun empat rumah contoh ini dikembangkan di area seluas 1 ha dengan investasi sekitar Rp70 miliar. Rumah yang akan dibangun sebanyak 39 unit  terdiri tipe 167/120, 218/145, dan 282/230 seharga Rp3-6 miliar/unit. Yudis

Berita Terkait

Ekonomi

April Konsumen Tahan Belanja, Perbanyak Tabungan

Survei Konsumen Bank Indonesia April 2026 yang dipublikasikan awal...

Ada Perang di Timur Tengah, WNI yang Melancong ke Luar Negeri Malah Naik Tinggi

Perang AS-Israel dengan Iran sejak akhir Februari 2026 melambungkan...

Bank Mandiri Dorong Penguatan Eksosistem UMKM

Penguatan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam...

Berita Terkini