Selasa, April 21, 2026
HomeBerita PropertiSeperti Ini Bisnis Perkantoran Setelah Pandemi

Seperti Ini Bisnis Perkantoran Setelah Pandemi

Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah membuat banyak perusahaan meninjau kembali strategi maupun pola kerjanya terlebih dengan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Menurut data JLL Indonesia, sebuah lembaga riset, konsultasi, dan manajemen properti global di Jakarta, sektor sewa perkantoran secara global telah mengalami penurunan 22 persen pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

“Ada banyak transaksi perkantoran yang ditunda maupun dibatalkan tapi aktivitas perkantoran di kawasan Asia Pasifik hanya turun sebesar 9 persen per kuartal dan angkanya masih naik sebesar 14 persen secara tahunan. Kondisi ini juga belum berdampak pada tingkat kekosongan di Asia Pasifik yang stagnan pada level 10,9 persen dibandingkan kuartal sebelumnya,” ujar James Taylor, Head of Research JLL Indonesia dalam siaran pers yang diterbitkan di Jakarta, Kamis (28/5).

Di Jakarta, dampak  paling signifikan yang dirasakan terkait Covid-19 untuk sektor perkantoran kemungkinan besar akan terjadi pada kuartal kedua 2020. Dalam beberapa hal. Covid-19 telah mempercepat perubahan pada tempat kerja.  Tapi James mengatakan, bahwa pola bekerja maupun menjalankan bisnis dari rumah sekalipun pada saat  penerapan kebiasaan baru (new normal) tetap akan membutuhkan ruang perkantoran.

Bahkan kemungkinan  pandemi ini bisa membuat perluasan ruang kantor, karena setiap perusahaan akan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan pekerjanya dengan menerapkan pola-pola new normal seperti menjaga jarak dan hal lainnya.

“Situasi saat ini menjadi tantangan  bisnis perkantoran. Perusahaan tetap menggunakan perkantoran, hanya mungkin akan ada perubahan luasannya. Namun kita tetap berharap perkantoran akan menjadi bagian utama dari strategi kerja para pebisnis di Asia Pasifik untuk jangka menengah-panjang,” harapnya.

Berita Terkait

Ekonomi

Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun

Serupa dengan sektor manufaktur yang makin ekspansif selama triwulan...

Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Jumat (17/4/2026), kinerja industri pengolahan...

Beda dengan Fitch dan Moody’s, S&P Nyatakan Prospek Utang RI Tetap Stabil

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar positif dari...

Sepanjang 2025 Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp435 Triliun

Di tengah berbagai tantangan, dan prediksi pertumbuhan ekonomi global...

Berita Terkini