HousingEstate, Jakarta - Keberadaan rayap seringkali kita anggap sepele. Namun, ketika binatang menyerupai semut putih ini sudah melahap struktur properti, furnitur, dan aset berharga lain yang terbuat dari unsur kayu, baru kita tersadar rayap dapat mendatangkan kerusakan dan kerugian yang besar. Asosiasi Perusahaan Pengendalian Hama Indonesia (ASPPHAMI) menaksir, kerugian akibat rayap pada bangunan rumah di Indonesia mencapai Rp2,8 triliun setiap tahun. Taksiran kerugian itu didasari oleh tingginya populasi rayap di Indonesia yang beriklim tropis dan lembab, serta tanahnya yang kaya bahan organik. Akibatnya, hampir setiap lahan di Indonesia menjadi tempat tinggal sempurna koloni rayap.

Umumnya kita baru bertindak melakukan pengendalian dan pembasmian rayap setelah bangunan dan properti di rumah habis digerogotinya. Padahal, yang benar, pengendalian rayap sudah harus dilakukan sejak dini sebelum sebuah bangunan rumah didirikan. Menurut ahli kayu Prof Dr Dodi Nandika dalam webinar mengenai rayap yang digelar perusahaan jasa pengendali rayap Rentokil Indonesia awal November lalu, mengantisipasi dan mencegah perkembangbiakan rayap di area dan struktur bangunan jauh lebih baik dibandingkan baru bertindak setelah bangunan dan properti di dalamnya remuk digerogotinya.

Dengan kata lain, sejak awal konstruksi rumah sangat dianjurkan sudah disertai sekaligus dengan penerapan teknologi perlindungan dari rayap. Guru besar dari IPB University, Bogor, itu menyatakan, ada berbagai teknologi yang bisa diterapkan untuk mencegah perkembang-biakan rayap pada bangunan. Yang terbaru disebut reticulation system. Cara kerjanya, dengan meletakkan rangkaian pipa bawah tanah di sekitar bangunan. Melalui pengisian termitisida pada jalur pipa tersebut, kita pun bisa melakukan perlindungan berkelanjutan terhadap bangunan dari serangan rayap.

Rentokil Indonesia sudah menerapkan teknologi pengendalian rayap terbaru itu, yang disebut Rentokil Termite Drips System (RTDS) dan Rentokil Termite Piping System (RTPS). Pada RTDS, pengendalian dilakukan dengan menggunakan emitter yang menghasilkan tetesan bahan anti rayap pada pipa. Distribusi bahan anti rayapnya pun jadi merata dan presisi, karena didukung teknologi turbonet. Sedangkan RTPS memanfaatkan 3 (tiga) jenis nosel di setiap pipa untuk mendistribusikan bahan kimia secara merata ke seluruh area bangunan.

Rentokil menjamin pipa pada kedua metode itu terjamin kekuatannya hingga lebih dari 20 tahun. Ada juga tambahan mulsa plastik pada pipa sebagai penahan coran semen yang bisa menutup emmiter atau nosel. Selain bertujuan membuat barikade dalam tanah untuk menghalangi serangan rayap, piping system itu juga lebih efektif dan efisien karena sirkulasi penyemprotan termitisida bisa dilakukan berulang kali melalui pipa yang sudah tertanam.