Selasa, April 21, 2026
HomeBerita PropertiPerkantoran dan Apartemen Lesu, Ritel Semi-Outdoor Bisa Jadi Alternatif

Perkantoran dan Apartemen Lesu, Ritel Semi-Outdoor Bisa Jadi Alternatif

Dalam beberapa tahun terakhir pasar properti di Jakarta mengalami penurunan kinerja yang berkelanjutan pada sektor perkantoran dan apartemen. Stagnasi yang berkepanjangan telah menjadikan pembangunan ruang kantor dan apartemen menjadi kurang menarik bagi investasi.

Namun begitu, bisnis ritel di kota ini mengalami transformasi yang ditandai dengan kemunculan dan meningkatnya popularitas format ritel semi-outdoor lifestyle. Menurut Head of Retail Services Colliers Indonesia Sander Halsema, dengan memanfaatkan lahan kosong dan dikembangkan menjadi ritel semi-outddor lifestyle bisa menjadi sumber pendapatan dan meningkatkan produktivitas aset dalam jangka menengah.

“Kondisi ini juga sambil tetap untuk menjaga fleksibilitas untuk pengembangan kembali di masa depan ketika kondisi pasar mulai membaik. Seiring terus berkembangnya lansekap ritel di Jakarta, format ritel semi-outdoor lifestyle menawarkan keunggulan strategis yang signifikan bagi para pemilik lahan, pengembang, maupun penyewa ritel,” ujarnya dalam siaran pers yang diterbitkan Rabu (21/05).

Baca juga: Okupansi Pusat Belanja di Jakarta Menurun, Tapi Peritel Lokal dan Global Tetap Ramai Buka Gerai

Ada beberapa keuntungan yang bisa diraih. Dari sisi pemilik lahan ataupun pengembang bisa menghasilkan pendapatan berkelanjutan dengan tetap fleksibel untuk beralih ke penggunaan lahan yang lebih intensif ketika kondisi pasar mendukung.

Dalam konteks pengembangan kawasan hunian khususnya proyek apartemen, alih-alih memulai dengan pembangunan unit hunian dan menambahkan fasilitas pendukung di tahap selanjutnya, pengembang dapat menginisiasi proyek melalui pembangunan komponen ritel terlebih dahulu.

Untuk peritel, sewar uang ritel semi-outdoor umumnya lebih rendah dibandingkan dengan pusat perbelanjaan tradisional. Jangka waktu sewa biasanya antara tiga hingga lima tahun dengan opsi perpanjangan secara tahunan setelahnya. Fleksibilitas ini memungkinkan para peritel untuk mengelola risiko secara lebih efektif sambil mengembangkan operasional mereka.

“Dengan model bagi hasil juga bisa menciptakan hubungan saling menguntungkan antara pemilik dan penyewa. Biaya operasional yang lebih rendah karena perawatan dan fasilitas yang dibutuhkan juga lebih minimal dibandingkan mal secara umum,” pungkasnya.

Berita Terkait

Ekonomi

Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun

Serupa dengan sektor manufaktur yang makin ekspansif selama triwulan...

Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Jumat (17/4/2026), kinerja industri pengolahan...

Beda dengan Fitch dan Moody’s, S&P Nyatakan Prospek Utang RI Tetap Stabil

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar positif dari...

Sepanjang 2025 Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp435 Triliun

Di tengah berbagai tantangan, dan prediksi pertumbuhan ekonomi global...

Berita Terkini