Pasar Melemah, Hotel di Jakarta dan Bali Lakukan Rebranding dan Tingkatkan Kualitas
Selama setahun terakhir, setidaknya lima hotel di Jakarta telah menjalani proses rebranding atau perubahan merek, mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam industri menuju reposisi aset.
Menurut Ferry Salanto, Head of Research Colliers Indonesia, beberapa temuan utama dari fenomena rebranding hotel ini mencakup pergeseran dari volume ke profitabilitas, peningkatan nilai aset, reposisi melalui konsep yang diperbarui, serta adaptasi terhadap pola permintaan yang terus berubah.
Meskipun terjadi penurunan aktivitas Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE), hotel di Jakarta tetap menunjukkan potensi yang kuat pada segmen pemerintah dan korporasi, yang menjelaskan masih dominannya pasokan hotel kelas atas.
“Inisiatif rebranding dan peningkatan kualitas, telah mendorong peningkatan proporsi hotel bintang 4 dan 5 dalam total pasokan di Jakarta,” kata Ferry melalui keterangan yang diterima, Kamis (25/6/2026).
Hingga kuartal pertama tahun 2026, Colliers menyebut total inventaris hotel di Jakarta mencapai sekitar 49.106 kamar, dengan hotel bintang 4 menyumbang sekitar 40 persen dari total pasokan. “Ke depan, tambahan hotel kelas atas diperkirakan akan memasuki pasar, sehingga makin memperketat persaingan di segmen ini,” ujar Ferry.
Baca juga: Okupansi Hotel Makin Membaik, Terutama Hotel Berbintang
Sementara di Bali, pada kuartal pertama tahun 2026, pembukaan hotel baru hasil rebranding menegaskan kepercayaan investor terhadap fundamental pariwisata jangka panjang daerah tersebut.
Di tengah tantangan jangka pendek, Bali tetap menarik investasi pada aset perhotelan kelas atas. Pulau ini tetap menjadi destinasi utama untuk pengembangan hotel mewah, dengan tambahan sekitar 1.623 kamar hotel bintang 5 yang diperkirakan akan selesai antara tahun 2026 hingga 2029.
Baca juga: OXO Perkenalkan The Pavilions, Hunian Mewah dengan Konsep “Wellness” Pertama, di Bali
Konsep mewah berubah
Konsep kemewahan juga terus mengalami perubahan. Kemewahan kini tidak lagi hanya ditentukan oleh skala proyek atau klasifikasi bintang, tapi makin dipengaruhi oleh unsur eksklusivitas, personalisasi, dan pengalaman yang ditawarkan.
Pengembangan proyek baru mulai menekankan aspek wellness, suasana layaknya tempat peristirahtan (retreat), serta pengalaman yang dirancang secara khusus bagi tamu.
Konsep ini terutama menarik bagi wisatawan generasi milenial dan Gen Z, yang lebih mengutamakan pengalaman perjalanan yang bermakna, autentik, dan mendalam.
Baca juga: Nuanu Creative City Lansir 4 Proyek Hunian dan Hotel Baru
Dalam lingkungan yang makin dinamis, hotel yang mampu menunjukkan kelincahan operasional, posisi pasar yang kuat, serta penawaran berbasis pengalaman, akan berada pada posisi terbaik untuk mempertahankan kinerja dan menangkap peluang baru.
“Hotel yang mampu memanfaatkan rebranding secara efektif, mengoptimalkan operasional, dan mengidentifikasi segmen permintaan baru, akan lebih mampu menjaga kinerja serta menghadapi tantangan pasar yang terus berkembang,” pungkas Ferry.