Mahasiswa Arsitektur Harus Paham Realestat
Mahasiswa arsitektur sebagai calon arsitek profesional harus memahami dunia realestat. Pengetahuan tentang hal ini sangat membantu arsitek untuk menghasilkan karya desain yang diterima pasar dan bisa diaplikasikan pengembang menjadi produk layak jual. “Mendesain untuk developer itu bagaimana caranya harus laku, faktor geografis harus diperhitungkan karena produk yang laku di Jakarta berbeda dengan di Bandung dan daerah lainnya. Banyak desain bagus nggak laku dijual karena arsiteknya kurang memahami real estat,” ujar Baskoro Tedjo, juri Lomba Desain Rumah 2014 yang diselenggarakan Majalah HousingEstate dan Kotabaru Parahyangan (KBP), di sela-sela acara penyerahan hadiah kepada para juara di Jakarta, Kamis (16/10).

Selain sebagai arsitek profesional, Baskoro juga menjadi staf pengajar di Departemen Arsitektur ITB, Bandung. Menurut Baskoro, karya desain mahasiswa yang diikutkan dalam Lomba Desain Rumah 2014 masih lemah apabila diaplikasikan untuk untuk rumah developer. “Para mahasiswa arsitektur itu perlu diberi mata kuliah tentang real estat karena penguasaan mereka tentang desain rumah developer cenderung lemah,” imbuhnya.
Juara Lomba Desain Rumah 2014 untuk kategori mahasiswa diborong mahasiswa dari Universitas Parahyangan Bandung. Mereka mengambil juara satu hingga tiga. Baskoro juga menyarankan pada arsitek profesional memperbanyak survei dan melihat contoh-contoh desain yang laku dan tidak. “Sebelum mendesain sesuatu harus memperbanyak studi empiris, karena kalau tidak bagus desain kita bakal banyak dimodifikasi. Desain juga harus up to date dan mengikuti tren,” ujarnya.
Juri lainnya, Irianto PH (Antara Design, Jakarta) dan Sugiharto, Head of Planning and Design KBP, menyampaikan pendapat serupa. “Karena pengalamannya, karya arsitek profesional lebih matang, tapi keberanian bereksplorasi kalangan mahasiswa lebih berani,” ujar Irianto. “Mahasiswa kurang mempertimbangkan aspek bisnis, yang penting mereka membuat desain yang luar biasa. Kalau diterapkan akan banyak modifikasi, kalau tidak biayanya mahal,” kata Sugiharto.