Pembangunan Properti di Irak Terancam ISIS
Uang bisa membuat pemiliknya mewujudkan segala sesuatu yang diinginkan. Begitulah yang dilakukan oleh konglomerat Irak ini. Mengagumi keindahan dan kebersahajaan White House di Washington DC, AS, Shihab N. Shihab sedang membangun replika tempat tinggal presiden AS itu di Erbil (Arbil), ibukota Propinsi Kurdistan, Irak.

Shihab tidak membangun dengan luas yang sama. Gedung asli memiliki luas 5.100 m2 dan Shihab membangun rumahnya “cukup” dengan luas 3.000 m2, setinggi tiga lantai. Tapi spesifikasinya membuat White House asli menjadi kalah mewah karena Shihab melebihkan segalanya. Semua railing tangga dan langit-langitnya dilapis emas 21 karat dari Italia, lalu kolom-kolomnya berbahan marmer Yunani. Kamar tidur utamanya dibuat seluas 140 m2 yang punya kamar mandi dengan fitur-fitur impor. Ada juga ruang bioskop privat, kolam renang, dan kolam mandi ala Turki yang langit-langitnya dipenuhi dekorasi gaya Ottoman. “Yang seperti ini mereka tidak ada di White House (asli),” kata laki-laki asli Irak berusia 58 tahun ini bangga.
Lokasi rumah Shihab dulu berada di zona militer untuk tentara Saddam. Kini di seberang rumahnya sedang dibangun Empire World, sebuah proyek multifungsi seluas 75 hektar yang dikembangkan Falcon Group. Disebut-sebut sebagai proyek terbesar dan paling premium di Irak, Empire World akan merangkum 88 menara apartemen, perkantoran dan hotel, serta 300 vila mewah. Total bangunanannya 125 ha. Dilengkapi jaringan jalan dan ruang terbuka hijau seluas 30,7 ha, dan sejumlah fasilitas, antara lain sekolah, rumah sakit dan mesjid seluas 11.250 m2. Nilai investasinya 2,3 miliar dolar AS, setara Rp27,7 triliun.
Tidak jauh dari Empire sedang dibangun Dream City. Para pemasar menyebut kompleks ini mirip perumahan mewah di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Tidak saja bangunannya berukuran luas, desainnya juga beragam bergaya rumah-rumah orang kaya baru. Satu dekade pasca jatuhnya Saddam Hussein oleh serbuan tentara AS, kota-kota di Iraq mulai tumbuh bak kota modern lain di dunia. Konstruksi gedung-gedung pencakar langit mulai menghiasi cakrawala kota, termasuk hotel yang dikendalikan operator internasional, seperti Kempinski, Marriott dan Hilton.

Shihab adalah salah satu pengembang di Erbil dan banyak mengembangkan mall di Irak. Tapi karena hal baru, banyak orang masih takut masuk ke mal, sehingga beberapa proyek yang sedang dibangun dihentikan. Padahal, menurut Tania Toma, Associate for Strategic Consultant Jones Lang LaSalle Dubai, banyak orang kaya Kurdistan yang mau membuang uangnya untuk berbelanja. “Mereka juga mau berinvestasi, sebab mereka melihat ada potensi pertumbuhan,” katanya.
Potensi itu pula yang dilihat para investor asing, terutama dari UEA. Menurut Sarbast Mantik, Direktur Informasi Badan Investasi Kurdistan, investasi asal UEA mencapai 2,5 miliar dolar AS (Rp30 triliun), disusul Turki 1,34 miliar dolar AS (Rp16 triliun). Total investasi real estat di Kurdis selama periode 2006-2014 mencapai 42 miliar dolar AS (Rp506 triliun), 13,3 miliar dolar AS (Rp160 triliun) diantaranya berupa pembangunan rumah.
Pembangunan di Erbil belakangan agak mendingin terkait ancaman tentara Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) ke kota-kota tetangga di wilayah Kurdistan. ISIS juga membuat pemerintah Baghdad kehabisan anggaran sehingga banyak pekerja Kurdistan belum menerima gaji sejak Juli lalu. ISIS juga membuat para ekspatriat memilih kabur dari Erbil. Tapi masalah ini diyakini hanya sementara. Karena itu Shihab tetap meneruskan perubahan proyek Naza Mall, mal pertama di Irak, menjadi apartemen dan ruang komersial setinggi 67 lantai.
(Sumber: Bloomberg)