Indonesia-Malaysia Bahas Masalah Perumahan Rakyat
Sebagai bangsa serumpun, Indonesia dan Malaysia memiliki banyak kesamaan mengenai budaya, iklim, dan kondisi geografis. Untuk itu, dalam acara The Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development (AMPCHUD) ke-5 di Korea Selatan, delegasi Indonesia melakukan bilateral meeting dengan Malaysia.
Kedua negara membahas dan bertukar pengalaman terkait penanganan perumahan dan pemukiman. Masalah kebutuhan dan backlog rumah serta strategi penanganan permukiman kumuh juga ikut dibahas. Menurut Direktur Pengembangan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Hadi Sucahyono yang mewakili delegasi Indonesia, pihaknya mengedepankan penanganan pemukiman kumuh melalui pemugaran, peremajaan, dan permukiman kembali. “Prioritasnya kawasan perkotaan yang tingkat pertumbuhan pemukiman kumuhnya sangat cepat,” ujarnya saat ajang APMCHUD, Rabu (5/11).

Sementara itu delegasi Malaysia yang dipimpin Menteri Kesejahteraan Bandar, Perumahan, dan Kerjaan Tempatan Abdul Rahman Dahlan, menyebut penyediaan perumahan rakyat terbaru di Malaysia dikembangkan dengan penggunaan kontainer dalam konstruksi pembangunannya.
“Teknologinya dari Jepang, kontainer itu untuk membangun rumah rakyat yang sederhana, nyaman, murah, dan cepat. Saat ini ada 70 ribu jiwa penduduk di Malaysia yang tinggal di pemukiman kumuh, di Kuala Lumpur tersisa 3 ribu jiwa,” katanya.
Karena itu pihak pemerintah Malaysia terus melakukan eksplorasi teknologi untuk percepatan pembangunan perumahan rakyat. Malaysia juga menghadapi masalah yang sama dengan Indonesia, yaitu terbatasnya penyediaan tanah terutama di kota-kota besar. Karena itu harga tanah di Malaysia juga terus naik rata-rata 12 persen per tahun.
“Dengan banyaknya persamaan ini yang pasti kita akan terus berkomunikasi lebih intensif untuk memajukan pembangunan perumahan di wilayah regional,” tandas Hadi.