HousingEstate, Jakarta - Sektor properti kembali terpukul dengan adanya pandemi Coronavirus Disease 19 (Covid-19). Padahal sejak akhir tahun 2019 hingga awal 2020, sektor properti sudah mulai menunjukkan tren peningkatan di semua sektor, baik perumahan, apartemen, perkantoran, shophouse, hotel, industri, maupun pergudangan.

Dengan adanya wabah Covid-19 bukannya menghilangkan potensi pasar, tapi semuanya jadi terhenti karena semua orang lebih memprioritaskan keselamatan dan kesehatan. Tidak ada lagi aktivitas pameran maupun kunjungan ke kantor marketing. Untuk itu perlu dilakukan beberapa antisipasi supaya sektor ini tidak kembali jatuh terlalu dalam.

Menurut Ketua Umum Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Endang Kawidjaja, untuk tahap pertama pemerintah harus memberikan kelonggaran pembayaran cicilan kredit  dan aturan itu harus diterapkan oleh perbankan. Hal ini untuk memudahkan kalangan yang harus bekerja dari rumah dan penghasilannya berkurang karena harus melakukan karantina.

“Bentuk keringanannya  hanya membayar bunga saja untuk periode enam bulan. Jadi bayar pokoknya ditangguhkan. Supaya pengembang maupun konsumen tidak default semua yang malah akan membuat kredit macet atau non performming loan (NPL) bank jadi tinggi,” ujarnya kepada housingestate.id, Jumat (3/4).

Endang juga memprediksi, saat wabah Covid-19 ini berlalu, untuk sektor properti  tidak akan langsung bagus. Pasar properti memang akan naik tapi tetap akan secara gradual khususnya mengikuti percepatan sektor manufaktur yang pergerakannya akan pelan.

“Untuk periodenya, misalnya wabah Covid-19 ini berakhir, paling tidak pasar akan menyesuaikan selama 6-9 bulan untuk kembali bangkit. Karena itu dibutuhkan beberapa perencanaan untuk mitigasi selama wabah ini, khususnya kebijakan relaksasi kredit dari pemerintah, supaya sektor ini bisa tetap bertahan,” katanya.

Menurut Endang, satu hal yang paling dikhawatirkan dengan adanya karantina, orang tidak mendapatkan tambahan penghasilan dari lembur dan lainnya. Berbagai aktivitas yang bisa dilakukan secara online juga belum bisa direalisasikan untuk sektor perumahan.

“Soal kenaikan harga untuk rumah bersubsidi per 1 April 2020 menurut saya bagus, tapi dalam situasi sekarang  siapa yang mau beli, semua orang lagi fokus ke wabah. Kenaikannya sudah cukup oke, aturan di peraturan menteri (Permen) juga sudah dibuat detil, produk rumah sebelum 31 Maret dengan setelah 1 April sudah jelas treatment-nya, tapi sekarang yang lebih krusial itu relaksasi kredit supaya orang tidak gagal bayar,” tandasnya.

close
GRATIS | Majalah HousingEstate