HousingEstate, Jakarta - Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman (Puskim) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) mengembangkan teknologi pembakaran sampah raman lingkungan yang disebut Tungku Sanira (sampah nir racun). Alat ini bisa digunakan pada industri atau pabrik, pertokoan, pasar, hingga lingkungan permukiman.

Berdasarkan siaran pers yang dikirimkan Kemenpupera, Jumat (3/4), dengan alat ini dapat mengurangi sampah yang ditimbun ke tempat pembuangan akhir (TPA). Alat ini bisa digunakan untuk menangani residu sampah melalui pembakaran sehingga bisa mengurangi sampah hingga 80-98 persen.

Pembakaran Tungku Sanira dengan dua tahap: pembakaran dalam ruang bakar dan pembakaran gas atau asap di dalam jaringan pipa ruang bakar. Pada sistem pembakaran asap akan melalui proses filter udara yang terdiri dari tiga tahap yaitu filter partikulat atau abu terbang dengan siklon, filter udara dikendensikan dalam jaringan pipa dan filter udara setelah kondensasi diberi kabut air melalui sprayer.

Proses pendinginan udara dilakukan dengan mengalirkan air yang digunakan sprayer secara sirkulasi melalui menara pendingin dan pengendapan. Menara pendingin air berupa cascade untuk mempercepat proses pendinginan dan penambahan oksigen serta pengurangan partikel. Penggunaan filter asap dan sistem water spray menjadikan sampah hasil pembakaran tidak mengeluarkan asap gas C02 sehingga ramah lingkungan.

Proses pembakaran dengan Tungku Sanira juga tidak membutuhkan bahan bakar minyak atau gas tapi cukup dengan memanfaatkan sampah organik dan anorganik kering sebagai bahan bakarnya seperti ranting, kertas, dan sebagainya. Saat proses menyalakan api digunakan blower untuk menghasilkann udara.

Rata-rata tenaga listrik yang dibutuhkan untuk mesin blower, pompa air, dan pompa sprayer sebesar 1.000 watt. Jadi sampah yang dibakar di dalam tungku ini berupa residu sampah yang kadar airnya kurang dari 40 persen, baik sampah organik dan anorganik kecuali logam, kaca, dan bahan lain yang sulit terbakar. Suhu pembakaran bisa mencapai 800 derajat celcius.

Kapasitas bakar tungkunya sebesar 1-2 m3/jam dengan luas area minimal dibutuhkan 5×5 m atau 25 m2. Tungku Sanira ini juga bisa dioperasionalkan sebagai pengolahan sampah mandiri dan teknologi ini  akan lebih efektif bila diintegrasikan dengan pengolahan sampah lain dengan menerapkan konsep 3R (reduce, reuse, recycle). Bahkan jika dioperasikan 24 jam, Tungku Sanira berpotensi dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik mini.

Teknologinya juga telah mendapatkan label sebagai non-toxic waste furnace atau tungku pemusnah sampah nir racun. Dari hasil penelitian, emisi gas buang yang dihasilkan juga memenuhi baku mutu yang berlaku di Indonesia sesuai standar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Akhirnya, Kemenpupera bertekad untuk mendukung pengurangan sampah dengan pengelolaan yang baik melalui upaya struktural membangun infrastruktur persampahan maupun non struktural dengan mendorong perilaku hidup bersih dan sehat. Tingkat volume sampah yang tinggi khususnya di perkotaan mendorong Kemenpupera mengembangkan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi permasalahan sampah.

close
GRATIS | Majalah HousingEstate