HousingEstate, Jakarta - Kehadiran perpustakaan di sebuah sekolah adalah sebuah keharusan untuk mendorong siswa bisa belajar, banyak membaca, dan mencari informasi. Sayangnya, tidak semua sekolah memiliki cukup ruang untuk membuat perpustakaan yang layak bagi siswanya. Seperti yang terjadi di Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) 20 Mei Raudlatussaadah di Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Bangunan sekolah dua lantai yang berlokasi di antara pemukiman padat ini dalam beberapa tahun terakhir harus memindahkan lokasi perpustakaan sebanyak tiga kali karena kebutuhan ruang kelas dan atap bocor. Akibatnya, siswa menjadi kurang berminat berkunjung ke perpustakaan.

Melihat kondisi tersebut, Tim Program Pengabdian Masyarakat dari Universitas Indonesia (UI) yang diketuai Mohammad Nanda Widyarta, menawarkan solusi peningkatan kualitas perpustakaan kepada sekolah. Pengerjaan renovasi perpustakaan dilakukan sejak April hingga Juli 2019 melibatkan seluruh siswa di sekolah tersebut.

“Peningkatan kualitas perpustakaan menjadi solusi utama yang ditawarkan untuk menyelesaikan permasalah yang ada. Diharapkan ruang perpustakaan menjadi layak dan menarik bagi para siswa-siswi untuk datang, membaca, dan belajar mandiri di perpustakaan,” kata Tri Wahyuni, salah satu anggota dari Tim Program Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia.

Pojok multimedia

Perpustakaan masa kini tidak hanya difungsikan untuk menyimpan buku-buku, tapi juga fasilitas multimedia seperti rekaman audio, video, yang bersifat ilmu pengetahuan dan memiliki akses internet. Perpustakaan kemudian dapat didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam berbagai format, baik yang bersifat fisik (hard copy) maupun digital (soft copy). Selain siswa-siswi, staf pengajar juga dapat memanfaatkan prasarana multimedia di perpustakaan sebagai metode belajar mengajar audio-visual jika dibutuhkan.

Melibatkan siswa

Untuk menumbuhkan sense of belonging terhadap perpustakaan yang baru, siswa-siswi dilibatkan dalam proses renovasi sejak dari mendesain. Melalui diskusi-diskusi menggunakan media 2D dan 3D, siswa-siswi dapat secara kreatif menyampaikan ide dan gagasannya. Dalam proses ini pula, siswa-siswi diberikan pemahaman akan fungsi ruang perpustakaan yang baru, elemen dan furnitur ruang, serta prasarana yang dapat dimanfaatkan.

Selama hampir satu bulan, usulan konsep tema ruang perpustakaan digodok oleh siswa-siswi dalam sembilan kelompok didampingi satu fasilitator. Pemilihan tema ruang dilakukan dengan voting terhadap tiga konsep desain terbaik. Yakni, Rainbow Library, Underwater dan Luar Angkasa. Para siswa memenangkan tema Luar Angkasa untuk dikembangkan menjadi desain ruang perpustakaan.

Luar angkasa

Tim UI menyusun rencana pekerjaan fisik yang lebih detil dan terstruktur dalam waktu dua minggu. Tema Luar Angkasa diterapkan pada ruang seluas 21 m2 melalui dinding mural perpustakaan berwarna ungu. Langit-langit perpustakaan juga dicat dengan warna ungu lebih gelap. Sementara rak-rak buku dibuat dari rangka besi yang diberi warna kuning terang sehingga tampak kontras. Konsep area duduk perpustakaan dibuat lesehan untuk bisa menampung lebih banyak siswa. Meja-meja berbentuk lingkaran ditempatkan pada tiga titik di atas karpet untuk menambah kenyamanan siswa saat belajar dan membaca di perpustakaan.

Bersamaan dengan pengerjaan fisik ruang perpustakaan, dilakukan pula upaya untuk menggalang buku melalui Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) dan dari beberapa penerbit dengan skema CSR (corporate social responsibility). Pada pertengahan Juli 2019, perpustakaan mulai dioperasikan bersamaan dengan penerimaan siswa baru di sekolah tersebut.