HousingEstate, Jakarta - Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), periode tahun 2000 hingga 2018 tercatat tejadi  228 kali gempa bumi. Bencana ini telah memakan korban jiwa sebanyak 8.747 orang. Sedangkan untuk kerusakan bangunan rumah saja mencapai satu juta unit lebih, dengan rincian sebanyak 483.951 unit rusak berat, 15.282 unit rusak sedang, dan 694.253 unit rusak ringan.

Banyaknya korban dan besarnya kerugian  setiap kali bencana tersebut salah satunya karena rendahnya kesadaran masyarakat, khususnya yang bertempat tinggal di daerah-daerah rawan bencana. Penggunaan jenis material untuk bangunan rumah  tetap memakai bahan-bahan bangunan  konvensional,  bukan material  yang memiliki karakteristik khusus yang tahan terhadap guncangan hebat.

Karena itu menurut Seto Rosdeno, Kepala  Program Inovasi Teknologi Bangunan Tahan Gempa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), bangunan-bangunan di berbagai daerah rawan gempa harus menggunakan material maupun desain khusus. “Untuk penanganan pasca gempa dibutuhkan inovasi teknologi  bangunan tahan gempa dan cepat bangun.” ujarnya.

Sejauh ini BPPT  telah mengembangkan dua unit prototipe Rumah Komposit Tahan Gempa (RKTG) yang dipasang di Kranggan, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, untuk digunakan BPBD Tangsel terkait infrastruktur mitigasi bencana.

RKTG yang dikembangkan BPPT memiliki beberapa keunggulan  cepat bangun, hanya dalam waktu tujuh hari rumah sudah siap huni, dan cukup dikerjakan oleh empat orang tukang. Mekanisme rumah ini dibuat modular dengan sistem knock down dan menggunakan frame struktur ringan sehingga bisa dikonsep sebagai rumah tumbuh maupun rumah deret.

Tipe rumah yang dibuat untuk prototipe ini 6×6 m (36 m2) dengan harga di bawah Rp170 jutaan dan telah memiliki berbagai standar yang ditetapkan. Misalnya desain tahan gempanya telah terstandar SNI 1726-2012, tahan api ASTME 84/ISO 834-1, hingga sistem joint interlock serta seismic bearing sebagai base isolator.

Salah satu material RKTG ini adalah sandwich panel produksi pabrikan lokal PT Alsun Suksesindo (Bekasi, Jawa Barat). Menurut Rudy Kesuma, Direktur Alun Suksesindo, produk sandwich panel Alsun yang digunakan untuk RKTG ini memiliki sejumlah keunggulan, baik secara material maupun dikaitkan dengan situasi pandemi Covid-19.

“Produk sandwich panel Alsun ini menggunakan material khusus polyisocanurate (PIR)  yang ringan namun solid, flame retardant (anti api), dengan sistem perakitan yang mudah. Selain itu material ini juga telah diberikan coating khusus untuk membuatnya anti bakteri-virus sehingga cocok digunakan saat situasi pandemi ini,” ujarnya dalam siaran pers yang diterbitkan Selasa (26/1).

Dengan adanya fitur khusus anti bakteri-virus ini membuat produk Alsun digunakann juga untuk berbagai fasilitas penanganan pandemi Covid-19. Misalnya, untuk RS Galang di Pulau Batam, Kepulauan Riau. Lalu RS Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, RS Adam Malik Medan (Sumatera Utara), dan beberapa fasilitas lain khususnya yang terkait penanganan Covid-19.

“Dengan produk khusus ini kami juga tengah dalam tahap pembicaraan serius dengan BPPT, asosiasi pengembang, maupun pihak lainnya untuk membuat hunian tahan gempa maupun sarana lainnya. Sandwich Panel Antibacterial ini sangat layak digunakan karena tidak akan ambruk bila ada goncangan gempa seperti rumah konvensional sehingga bisa meminimalkan risiko,” katanya.