Jumat, Juni 5, 2026
HomeUncategorizedMeski Diwarnai Penutupan Sejumlah Pabrik, Februari PMI Manufaktur Indonesia Catat Rekor

Meski Diwarnai Penutupan Sejumlah Pabrik, Februari PMI Manufaktur Indonesia Catat Rekor

Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global menunjukkan, PMI manufaktur Indonesia pada Februari 2025 mencapai 53,6, atau naik signfikan (1,7 poin) dibanding PMI Manufaktur Januari 2025 yang tercatat 51,9.

PMI manufaktur pada Februari 2025 itu merupakan yang tertinggi dalam 11 bulan terakhir, yang mencerminkan optimisme pelaku industri terhadap prospek pasar ke depan.

Sejumlah perusahaan menaikkan kapasitas, juga menambah jumlah tenaga kerja. Bahkan, S&P Global menyebut peningkatan rekrutmen tenaga kerja pada Februari 2025 merupakan yang tertinggi yang pernah tercatat dalam survei.

PMI manufaktur Indonesia Februari 2025 itu melampaui PMI manufaktur Amerika Serikat (51,6), Taiwan (51,5), Filipina (51,0), China (50,8), Thailand (50,6), Malaysia (49,7), Vietnam (49,2), Jepang (48,9), Myanmar (48,5), Jerman (46,1), dan Inggris (46,4).

“Indonesia mencatat pertumbuhan tertinggi di tingkat ASEAN. Bahkan melampaui negara-negara manufaktur global yang saat ini masih mengalami fase kontraksi (indeks di bawah 50),” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan resmi, Senin (3/3/2025).

Kenaikan signifikan kinerja manufaktur Indonesia itu terjadi pada saat sebagian produsen menutup pabriknya di Indonesia, seperti Sanken, Yamaha, dan Tokai Indonesia, dan dipailitkannya pabrik tekstil raksasa Sritex.

Baca juga: Setelah Terkontraksi 5 Bulan, Manufaktur Indonesia Kembali ke Zona Ekspansi

Sebelumnya selama lima bulan berturut-turut sejak Juli 2024, PMI manufaktur Indonesia terkontraksi (indeks <50). Pada November 2024 misalnya, PMI manufaktur Indonesia tercatat di level 49,6. Pada Desember 2024 S&P Global mencatat, PMI manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi (indeks >50) dengan indeks 51,2.

PMI manufaktur adalah indikator ekonomi yang menunjukkan kondisi industri pengolahan (produsen barang). Indeks PMI didapat dari survei bulanan terhadap manajer pembelian (purchasing) di perusahaan manufaktur.

PMI ekspansi menunjukkan industri manufaktur bergairah karena permintaan (pesanan baru) meningkat, yang selanjutnya menaikkan produksi dan kebutuhan terhadap tenaga kerja.

Karena pesanan atau permintaan meningkat dan stok berkurang, perusahaan meningkatkan pembelian yang tercermin dari ekspansi PMI manufaktur tersebut.

Menurut Menperin, PMI manufaktur Februari 2025 itu sejalan dengan capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dilansir Kementerian Perindustrian (Kemenperin), dengan IKI Februari 2025 tercatat di level 53,15, meningkat 0,05 poin dibanding Januari 2025 atau 0,59 poin dibanding Februari 2024.

Menperin menyatakan, meskipun menghadapi berbagai dinamika politik dan ekonomi, industri manufaktur nasional tetap menunjukkan kepercayaan yang tinggi. Mencerminkan iklim usaha di Indonesia yang kondusif, karena adanya beberapa regulasi pemerintah yang mendukung peningkatan produktivitas dan daya saing industri.

Antara lain disepakatinya Permendag baru terkait pengendalian impor tekstil dan produk tekstil, yang akan menciptakan fair play di pasar domestik terhadap barang-barang impor yang diduga melakukan praktik dumping.

“Optimisme pelaku industri akan berlanjut bila kebijakan yang sama diberlakukan juga pada komoditi-komoditi hilir lain yang langsung dikonsumsi masyarakat,” kata Agus.

Agus menyebut melesatnya PMI manufaktur Februari 2025 didorong tingginya produktivitas dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar domestik yang meningkat.

“Pasar domestik masih jadi andalan. Jadi, harus dipastikan gempuran produk impor bisa dihilangkan, dengan diterbitkannya kebijakan safeguard, lartas, dan lain-lain untuk melindungi pasar dalam negeri,” ujar Menperin.

Dengan adanya berbagai upaya strategis dan inovasi dari para pelaku industri, serta dukungan berkelanjutan dari pemerintah, Menteri Agus optimistis industri manufaktur dapat kembali bangkit dan mencatat pertumbuhan positif sehingga dapat memacu pertumbuhan ekonomi nasional.

Kontribusi industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi sampai saat ini masih tercatat sebagai yang terbesar, mencapai hampir 19 persen. “Kami yakin PMI manufaktur Indonesia bisa lebih tinggi lagi bila didukung dengan kebijakan strategis seperti revisi kebijakan relaksasi impor untuk tujuh subsektor industri,” tegas Agus.

Berkaitan dengan itu, Kemenperin mengapresiasi mengapresiasi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia atas diterbitkannya Keputusan Menteri ESDM Nomor 76K/2025 tentang Perpanjangan HGBT (Harga Gas Bumi Tertentu) untuk tujuh sektor industri yang berlaku selama lima tahun ke depan.

Baca juga: 100 Hari Pemerintahan Prabowo, Kinerja Industri Manufaktur Diklaim Membaik

Menperin optimistis PMI manufaktur Indonesia pada Maret 2025 juga akan berada di fase ekspansi. Antara lain karena adanya peningkatan produksi dan konsumsi selama Ramadan dan Lebaran, terutama pada pembelian produk makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, serta alas kaki.

Joe Hayes, Kepala Ekonom S&P Global Market Intelligence, mengatakan kondisi permintaan sangat mendukung pertumbuhan industri manufaktur Indonesia yang menjadi pertanda baik pada awal triwulan 2025.

S&P Global menyebut dalam laporannya, pemesanan baru tumbuh kuat, tercepat dalam hampir setahun. Produksi meningkat, begitu juga pembelian bahan baku dan rekrutmen pekerja.

“Pertumbuhan ini mendorong perluasan lapangan kerja dan kenaikan volume pembelian. Kami juga melihat perusahaan lebih optimis terhadap perkiraan mendatang, kepercayaan diri naik paling tinggi dalam waktu hampir tiga tahun,” ungkap Hayes.

Di samping itu optimisme produsen Indonesia tetap positif terhadap perkiraan permintaan pada masa mendatang. Hal ini menunjukkan pasar domestik dapat menjadi sumber pertumbuhan industri manufaktur, saat pasar ekspor melemah karena kebijakan proteksionis yang diterapkan Amerika Serikat.

Berita Terkait

Ekonomi

Menkeu Purbaya: Perbaikan Ekonomi Benar-Benar Terjadi, Lonjakan Penerimaan Pajak Buktinya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, kinerja perekonomian Indonesia...

Wamenkeu Suahasil: Kredibilitas dan Komunikasi Pemerintah, Kunci Menjaga Kepercayaan Pasar

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menegaskan, kredibilitas dan...

Dolar AS Perkasa, Kunjungan Turis Asing Meninggi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Selasa (2/6/2026), jumlah kunjungan...

Berita Terkini