Juli Cadangan Devisa RI Turun Lagi, untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah
Sepanjang Desember 2025 sampai Mei 2026 cadangan devisa Indonesia terkuras senilai total USD11,6 miliar atau lebih dari Rp206 triliun (kurs Rp17.800/USD), untuk mempertahakan nilai tukar rupiah kendati kurang berhasil.
Kalau pada Desember 2025 cadangan devisa masih USD156,5 miliar, pada Mei 2026 tinggal USD144,9 miliar. Pada Juni 2026 cadangan devisa itu kembali naik walaupun tipis (sekitar USD700 juta) menjadi USD145,6 miliar.
Namun pada Juli 2026, menurut laporan Bank Indonesia melalui Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso, Jumat (7/8/2026), cadangan devisa RI kembali berkurang sedikit sekitar USD300 juta menjadi USD145,3 miliar.
Menurut Ramdan, pengurangan cadangan devisa Juli 2026 itu dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa serta penerbitan global bond pemerintah, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia, sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang kembali meningkat.
Posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2026 itu, setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, masih di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Cadangan devisa sangat penting bagi sebuah negara, sebagai tabungan dan dana darurat untuk membiayai aneka kewajiban luar negeri seperti pembayaran utang dan impor, menjaga stabilitas nilai tukar mata uang, dan menjaga ketahanan ekonomi domestik dari gejolak ekonomi global.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal RI tetap baik. Didukung oleh posisi cadangan devisa yang masih cukup memadai, serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil instrumen investasi di Indonesia yang tetap menarik.