Minggu, Mei 3, 2026
HomeBerita PropertiSandalwood Boutique Guest House Menikmati Alam Dari Dalam Kamar

Sandalwood Boutique Guest House Menikmati Alam Dari Dalam Kamar

Menggabungkan interior bernuansa pedesaan dengan suasana alam yang eksotik.

Sandalwood Boutique Guest House Menikmati Alam Dari Dalam Kamar

Teras belakang hotel di Jl Seskoau, Lembang, Bandung-Jawa Barat, yang menghadap ke hamparan taman hijau dan kolam renang itu menawarkan pemandangan luar ruang yang menyegarkan mata dan pikiran. Barisan pohon pinus dan damar berusia 21 tahun menghiasi pinggir halaman hotel. Kehadiran pohon-pohon buah yang langka menambah nilai eksotik ruang hijau di area belakang itu. Karena itu ditemani alunan musik Ebiet G Ade, seorang tamu bisa asyik bermain notebook di ruang tunggu itu sembari menyeruput cappuchino. Hawa dingin sore sesekali menusuk tulang karena hujan turun deras. Di antara banyak hotel wisata di wilayah sejuk Lembang, Sandalwood yang berarti pohon kencana ini bisa dibilang satu-satunya hotel yang memiliki banyak pohon pinus yang tinggi. Pendirinya pasangan suami istri pengusaha peternakan Billy Mamola (60) dan pengusaha fashion Nila Purnamasari (58).

Luwes

Awalnya Sandalwood yang termasuk hotel bintang empat ini adalah kediaman Billy- Nila dan kedua anaknya. Ketika anak-anaknya bersekolah di luar negeri dan mulai berkeluarga, rumah dua lantai seluas 450 m2 di atas lahan 4.000 m2 ini terasa terlalu lapang untuk mereka berdua. Kebetulan Billy yang tujuh tahun lalu juga membuka De’Ranch (5 ha), sebuah agrowisata terkenal tidak jauh dari situ (Jl Maribaya), sering kedatangan rekan-rekannya ke rumah untuk berdiskusi soal kuda. Dari situ terpikir membuat penginapan untuk memudahkan komunikasi antara mereka.

 

Mengandalkan kemampuan berbisnis Billy dan mendesain interior Nila, rumah tinggal itu pun disulap menjadi guest house yang homey. “Sebuah penginapan yang nyaman dan luwes sehingga tamu seperti berada di rumah sendiri, tidak di hotel yang cenderung kaku,” kata Billy yang dikenal sebagai ahli kuda. Pengoleksi mobil kuno ini mengaku konsep homey itu juga terinspirasi dari serial televisi populer tahun 1980-an “Losmen Bu Broto”.

Menyesuaikan dengan arsitektur rumah yang bergaya country, seluruh interior kamar hotel juga didesain bergaya serupa. Penggarapan hotel yang dibuka sejak 15 Desember 2013 ini dimulai tahun 2012. Billy menangani arsitektur bangunannya, Nila mengurusi interiornya. Ruang-ruang di dalam rumah diubah fungsinya. Area foyer, ruang tamu, dan ruang keluarga menjadi front office, bar, dan lobi. Model perabot dan aksesori bergaya semi klasik yang sudah menghiasi interior rumah sejak lama dibiarkan apa adanya.

Interior memadukan unsur vintage dan suasana pedesaan
Interior memadukan unsur vintage dan suasana pedesaan

Bangunan baru untuk penginapan ditempatkan di samping halaman belakang rumah. Ketika mendirikan bangunan extention ini, Billy dan Nila tidak melupakan keselarasan dengan alam sekitar. Karena bentuknya cukup tinggi, Billy berusaha agar bangunan tidak menghalangi pandangan penduduk di sekitarnya terhadap panorama alam. Dinding pembatas area hotel pun hanya berupa tanaman rambat yang pendek supaya bangunan tetap ramah.

Unit kamar paling mewah mendapatkan panorama Gunung Putri lewat dinding kaca
Unit kamar paling mewah mendapatkan panorama Gunung Putri lewat dinding kaca

Berbeda

Total bangunan hotel memiliki tiga lantai, masing-masing seluas sekitar 300 m2. Tiap lantai terdiri dari 3 – 4 kamar atau total 13 kamar. Tipe kamarnya deluxe, grand deluxe, family suite dan royal suite dengan rate Rp1– 1,8 juta/malam (hari kerja) dan Rp1,2–2,7 juta (akhir pekan). Nila merancang semua kamar berukuran 36–50 m2 itu bergaya vintage dan suasana pedesaan namun tetap mewah, apik dan personal. Gaya setiap kamar dibuat berbeda namun tetap bernuansa vintage.

Semua model perabot seperti ranjang kasur, meja kursi, nakas dan kabinet terbuat dari kayu meranti hasil karya Nila sendiri. Untuk menguatkan kesan kamar yang homey, sebagian furnitur dibuat terkesan rustic (pedesaan) atau jadul. Tidak ada bentuk perabot yang sama di setiap kamar. “Supaya pengunjung yang berulang kali menginap bisa menikmati sensasi kamar yang berbeda,” ujarnya.

Sandalwood Boutique Guest House Menikmati Alam Dari Dalam Kamar

Pemandangan alam sekitar yang memesona mudah diakses dari setiap kamar. Di lantai satu misalnya, tamu leluasa menikmati pemandangan taman hijau asri plus kolam renang. Jika memilih kamar paling mewah di pojok lantai atas, tamu bisa melahap indahnya panorama Gunung Putri lewat dinding kaca lebar. Berdiri di depan kaca melihat deretan pohon pinus yang bergoyang akibat hembusan angin kencang juga menjadi pengalaman lain, mengingatkan pada cuplikan film Twilight yang juga menampilkan pesona hutan pinus.

Harmonis Dengan Alam

Kegemaran Billy-Nila membangun rumah dan mendandani isinya turut mendorong insting mereka mengembangkan hotel. Meski bergelut di bidang peternakan dan fashion, sejak tahun 1985 mereka sudah mulai senang membangun properti berbentuk rumah. Sejak awal mereka tidak berencana menjual lagi rumah itu. Namun seiring waktu, rumah yang sudah dibangun bahkan sedang ditinggali, suka ditawar orang.

Billy bercerita, tahun 1990 ia membeli tanah seluas 2.100 m2 di Jl Setiabudi, Bandung. Di atas tanah itu ia membangun sebuah rumah untuk dihuni sendiri. “Suatu hari ada teman datang, celingak-celinguk lihat rumah dan bilang pengen membelinya. Saya berpikir, kenapa tidak selama menguntungkan, haha- ha,” kata pria yang pernah memecahkan rekor MURI menunggang kuda sepanjang 602,2 km selama 12 hari berturut-turut Lembang–Pangandaran pp ini.

Begitupun dengan Sandalwood yang lahannya dibeli tahun 1992 seharga Rp65 ribu/m2. “Kalau suatu saat ada yang tertarik, silakan saja (tawar), he-he-he,” lanjutnya. Dalam membangun rumah Billy selalu yang mendesain fisiknya, Nila menggarap interiornya. Kemampuan merancang pasangan ini diperoleh secara otodidak. Hingga kini sudah 10 rumah karya mereka di Bandung yang dilirik orang. Antara lain di Cimenyan dan Jl Setrasari. Setiap rumah berdiri di atas lahan 2.000–5.000 m2.

Dalam membangun rumah kakek-nenek dua cucu ini selalu memperhatikan keharmonisannya dengan lingkungan. Setahun setelah membeli lahan eks rumah ini misalnya, Billy langsung membuat tiga sumur resapan di depan, tengah, dan belakang halamannya. “Jadi kalau hujan airnya tidak kemana-kemana, cadangan air bertambah,” jelasnya.

Keselarasan aliran angin dengan posisi rumah juga diperhatikan. Untuk bekas rumah ini sejak awal Billy mendesainnya dengan teras belakang terbuka. Dengan demikian udara leluasa melaju keluar masuk rumah. “Di bagian belakang ini sangat terasa laju aliran angin. Duduk seperempat jam saja di sini mampu men-charge energi kita,” ungkapnya. Seluruh ruang bebas AC, termasuk semua kamarnya. Sirkulasi udara berlangsung lancar mengandalkan ventilasi silang melalui pintu dan jendela yang lebar, sehingga seluruh ruang tetap sejuk.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.

Berita Terkait

Ekonomi

Kemenperin Bantah RI Alami Deindustrialisasi, Ini Alasannya

Kementerian Perindustrian (Kemnperin) membantah Indonesia mengalami deindustrialisasi, atau penurunan...

Pesanan dan Produksi Menurun, Ekspansi Manufaktur RI Makin Kendur

Kinerja industri pengolahan atau manufaktur RI pada April masih...

Tiga Perusahaan Jajaki Kerjasama Pengembangan Teknologi Pengolahan Air di Kawasan Industri

Kementerian Perindustrian mempercepat penguatan infrastruktur pendukung industri, khususnya dalam...

AHY: Pembangunan Infrastruktur untuk Akselerasi Ekonomi Berkelanjutan

Pembangunan infrastruktur masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada...

Berita Terkini