Bambu Laminasi Puslitbang Permukiman, Kuat Untuk Kolom, Bisa Untuk Mebel
Banyak produk bahan bangunan yang bisa digunakan hasil dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puslitbang Permukiman) Kementerian Pekerjaan Umum. Beberapa hasil penelitian Puslitbang ini sudah diadopsi perusahaan swasta dan diproduksi secara komersial. Antara lain tangki septik instan Biofil dan bambu laminasi produksi tiga perusahaan di Bali dan Ngada (NTT).

Menurut Iwan Suprijanto, peneliti utama bidang perumahan yang juga Kabid Program dan Kerjasama Puslitbang Permukiman, bambu sudah lama dipakai sebagai bahan bangunan rumah di Indonesia. Tapi untuk menjadi pengganti kayu yang belakangan kian sukar diperoleh, masih ada kendala bentuk (bulat) dan ketahanan (mudah lapuk dan kropos).
“Itulah yang mendorong kita menghadirkan bambu laminasi,” kata sarjana arsitektur Universitas Brawijaya (Malang) itu. Bahan bakunya bambu betung yang tebal atau bambu tali yang lebih tipis. Bambu betung di-kletek selapis demi selapis, kemudian diawetkan dengan borac-boric atau boron sehingga kandungan glukosanya tidak lagi disukai rayap, dan dikeringkan hingga kadar airnya kurang dari 15% dan tidak bisa lagi membusuk.
Setelah itu baru lembaran-lembaran bambu itu ditempel dengan lem tahan air (urea formaldehyde untuk papan bambu interior dan polymer isocyanate untuk papan bambu eksterior) dan di-press menjadi papan, balok, partisi, dan lain-lain dalam berbagai ukuran sesuai kebutuhan.
Misalnya, untuk balok ukurannya 10/10 dengan panjang 3 m, untuk lantai kayu (parket) 15 x 20 cm dengan tebal 12–15 mm, dan untuk pagar 10 cm x 1–2 m dengan tebal 12 mm. “Dengan demikian bambu benar-benar bisa menjadi pengganti kayu,” ujarnya. Sedangkan bambu tali di-keprek, diawetkan dan dikeringkan dengan cara yang sama, baru ditempel dan di-press menjadi papan atau balok.
Puslitbang Permukiman menyebutnya bambu zephyr. Harganya lebih murah dibanding bambu laminasi. Penge-press-an lembaran bambu bisa menggunakan mesin (hot press) atau secara manual (cold press) yang padat karya dan lebih ramah lingkungan. Iwan menyebutkan, kekuatan bambu laminasi sudah diuji dan terbukti lebih baik bahkan dibanding kayu kelas satu, karena lembaran bambu dan lemnya solid menyatu dengan kerapatan tinggi, tahan air, rayap, dan perubahan cuaca.
Bambu laminasi direkomendasikan untuk partisi, parket, mebel, serta balok dan kolom. Sedangkan bambu zephyr disarankan untuk balok, struktur, dinding, dan pintu air. “Jadi kedua jenis engineer bamboo ini layak untuk membangun rumah kayu sampai membuat mebel,” kata magister arsitektur UGM ini.
Jangan heran produk papan bambu itu juga diminati di luar negeri dan diekspor. Bambu zephyr misalnya, di Belanda dipakai antara lain untuk membuat tanggul. Bahan bambunya tinggal dicari di daerah setempat. Karena itu harga produk bervariasi tergantung suplai dan kualitas bambu di setiap daerah. Di Bali misalnya, aplikator memasarkan balok bambunya Rp8,5 juta/m3 dan parket Rp150 ribu/m2, di Ngada balok dijual Rp6 juta/m3 dan parket Rp100 ribu/m2. Pemesanan bisa juga dilakukan melalui website resmi Puslitbangkim. Yoenazh