Setelah 3 Bulan Inflasi, Januari 2025 RI Kembali Alami Deflasi
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (3/2/2025t), selama Januari 2025 Indonesia kembali mengalami deflasi atau penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) secara bulanan (mtm) dan tahun kalender (ytd).
Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers menyatakan, Januari 2025 Indonesia mencatat deflasi 0,76 persen (mtm) atau penurunan IHK dari 106,80 (Desember 2024) menjadi 105,99 (Januari 2025).
Secara tahun kalender juga terjadi deflasi dengan angka yang sama karena bulan pembandingnya sama, Januari 2025.
“Deflasi Januari merupakan deflasi pertama tahun ini setelah yang terakhir September tahun lalu,” kata Amalia. Tahun lalu Indonesia mengalami deflasi lima bulan berturut-turut selama Mei-September 2024.
Deflasi Januari 2025 didorong oleh kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mengalami kemerosotan IHK dari 102,60 (Desember 2024) menjadi 93,20 (Januari 2025), serta kelompok nformasi, komunikasi, dan jasa keuangan dari IHK 99,48 (Desember 2024) menjadi 99,40 (Januari 2025). Sedangkan kelompok pengeluaran lainnya mengalami inflasi atau kenaikan IHK.
Baca juga: Pemerintah dan BI Duduk Bareng, Pastikan Inflasi Tahun Ini Sesuai Target
Sementara secara tahunan (yoy) Januari 2025 terjadi inflasi 0,76 persen dengan IHK sebesar 105,99 dibanding 105,19 pada Januari 2024.
Inflasi tahunan pada Januari 2025 ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran.
Yaitu, kelompok makanan, minuman dan tembakau 3,69 persen, pakaian dan alas kaki 1,24 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,14 persen, kesehatan 1,84 persen, transportasi 0,76 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,11 persen, pendidikan 2,05 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,47 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 7,27 persen.
Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 8,75 persen, serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,30 persen.
Inflasi adalah kondisi di mana harga sekumpulan barang dan jasa yang disurvei mengalami peningkatan dibanding periode sebelumnya, yang dicerminkan melalui peningkatan IHK. Sedangkan deflasi sebaliknya, harga sekumpulan barang dan jasa yang disurvei mengalami penurunan IHK.
Sedangkan tingkat inflasi komponen inti Januari 2025 sebesar 2,36 persen (yoy), 0,30 persen (mtm), dan 0,30 persen (ytd). Bandingkan dengan inflasi inti Desember 2024 sebesar 2,26 persen (yoy), 0,17 persen (mtm), dan 2,26 persen (ytd).
Inflasi inti mengukur kenaikan harga barang dan jasa di luar bahan makanan yang masuk komponen bergejolak (volatile food), dan harga komoditas yang diatur pemerintah (administered prices) seperti BBM.
Karena itu inflasi inti menjadi indikator daya beli masyarakat dari konsumsi barang sekunder dan tersier alias non pangan. Pemerintah kerap menyatakan, peningkatan inflasi inti menunjukkan daya beli tidak melemah.
BPS dan juga para menteri ekonomi dalam berbagai kesempatan menyatakan, menurunnya inflasi Indonesia pada 2024 terutama karena penurunan harga bahan pangan (volatile food), bukan karena pelemahan daya beli.
Sebagai bukti daya beli masyarakat tidak melemah, mereka menunjuk inflasi komponen inti yang tetap meningkat.