Minggu, Juni 21, 2026
HomeBerita PropertiPasar Properti Kelas Atas Turun 60 Persen

Pasar Properti Kelas Atas Turun 60 Persen

Satu tahun terakhir boleh dibilang sebagai periode paling sulit bagi pengembang hunian menengah atas. Melemahnya perekonomian nasional ditambah beragam kebijakan, seperti loan to value (LTV) atau rasio pinjaman dengan aset dan kewajiban melaporkan ke PPATK untuk transaksi Rp500 juta ke atas, membuat transaksi property kelas atas merosot tajam. Konsumen yang sebagian besar bermotif investasi lebih berhati-hati membelanjakan uangnya dan menunggu keadaan lebih pasti.

Ilustrasi
Ilustrasi

Menurut Ketua Umum DPP Realestat Indonesia  (REI), Eddy Hussy, pasar properti kelas atas mengalami penurunan hingga 60 persen. “Ini berbeda dengan properti untuk kalangan MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) yang meningkat hingga 12 persen dari tahun lalu,” ujar Eddy kepada media di Jakarta, Kamis (15/10).

Eddy mengatakan, program sejuta rumah membuat masyarakat menengah bawah semakin sadar terhadap kebutuhan tempat tinggal. Sekarang mereka mau berusaha untuk membeli rumah. Ini mendorong permintaan hunian pada segmen ini meningkat cukup signifikan. Penyebab lain besarnya permintaan rumah menengah bawah ini adalah adanya pertambahan penduduk 1,49 persen per tahun.

“Sekarang sudah terbukti krisis ekonomi tidak memengaruhi minat masyarakat untuk membeli rumah tinggal. Mindset masyarakat juga sudah lebih baik dengan menganggap rumah sebagai investasi jangka panjang untuk masa depannya,” imbuhnya.

Berita Terkait

Ekonomi

Presiden Minta Bank-Bank Milik Negara Jangan Cuma Cari Untung

Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan jajaran komisaris dan...

Presiden Perintah Menteri Rosan: Sampaikan Kepada Publik Senin Besok Kondisi Investasi RI Sesuai Fakta

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM...

Mei Masyarakat Banyak Belanja dan Kuras Tabungan, Cicilan Utang Meningkat

Pada Mei 2026, rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang dipakai...

Berita Terkini