Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, pertumbuhan simpanan nasabah dalam semua kelompok (tiering) di perbankan tetap meningkat selama triwulqan II (April-Juni 2026), antara 0,78 persen sampai 15,44 persen secara tahunan (yoy).

Pertumbuhan tertinggi terjadi pada kelompok simpanan di atas Rp5 miliar yang melonjak 15,44 persen (yoy), didorong peningkatan simpanan korporasi.

“Secara keseluruhan pertumbuhan simpanan masyarakat di perbankan masih positif di seluruh kelompok nominal simpanan,” kata Ketua LPS Anggito Abimanyu dalam konferensi pers rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8/2026).

Rapat dihadiri semua anggota KKSK (Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, Pjs Gubernur BI Destry Damayanti, Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi, dan Ketua LPS Anggito Abimanyu).

Anggota menjelaskan, simpanan dengan nominal tiering di bawah Rp100 juta yang didominasi simpanan milik perorangan atau rumah tangga, tumbuh jauh lebih baik menjadi 5,16 persen (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya (Maret 26: 1,84 persen yoy).

“Ini menunjukkan kemampuan menabung di kelompok tersebut masih cukup terjaga lintas waktu,” ujar mantan Wakil Menteri Keuangan itu.

Bahkan, simpanan perorangan/rumah tangga dengan tiering di bawah Rp5 juta dan tiering Rp5-Rp10 juta pada triwulan II 2026 (April-Juni 2026) menunjukkan pertumbuhan yang jauh lebih baik, masing-masing 7,36 persen (yoy) dan 10,01 persen (yoy) dibanding 2,02 persen (yoy) dan 1,76 persen (yoy) pada triwulan I.

Baca juga: Rupiah Terus Melemah, Warga RI Kian Getol Timbun Dolar, Deposito Valas Melesat

Menurut Anggito, perbaikan kinerja simpanan pada kelompok rumah tangga ini, juga mengindikasikan menguatnya basis penghimpunan dana ritel oleh perbankan di tengah tren kenaikan suku bunga.

Dari perspektif stabilitas pendanaan, kondisi tersebut memberikan sinyal positif, karena pertumbuhan dana tidak hanya ditopang oleh deposan besar, tapi juga oleh penghimpunan dana ritel yang relatif lebih stabil sehingga dapat memperkuat struktur pendanaan perbankan.

Sementara simpanan dengan saldo Rp100-200 juta tumbuh 4,2 persen, simpanan Rp200-500 juta naik 3,07 persen, kelompok Rp500 juta-1 miliar tumbuh 2,32 persen, simpanan Rp1-2 miliar meningkat 2,67 persen, dan kelompok Rp2-Rp5 miliar tumbuh 4,78 persen.

Kendati demikian, pertumbuhan simpanan tertinggi masih dipegang kelompok simpanan di atas Rp5 miliar yang mencapai 15,44 persen, yang menurut Anggito didominasi oleh dana milik korporasi.

Berdasarkan data pertumbuhan simpanan di atas, Ketua LPS membantah adanya fenomena ‘makan tabungan’ (mantab) di tengah kondisi ekonomi saat ini. “Data terbaru LPS justru menunjukkan, simpanan masyarakat termasuk nasabah kecil mencatat pertumbuhan yang lebih baik,” jelas Anggito.

Baca juga: Likuiditas Longgar, Tapi Penurunan Bunga Simpanan di Bank Masih Terbatas

Pada kesempatan itu, Ketua LPS juga menyampaikan tentang masih adanya 46,5 juta penduduk Indonesia yang belum memiliki rekening bank.

Sementara untuk kelompok usia produktif, yang belum memiliki rekening mencapai 15,3 juta orang yang diproyeksikan menurun menjadi 13,5 juta pada akhir 2026.

“Jumlah penduduk yang tidak punya rekening makin kecil. Setiap tahun saya monitor, turun sekitar 2 jutaan. Sekarang tinggal 15 juta (untuk populais usia produktif yang belum punya rekening,” pungkas Anggito.