Selasa, April 21, 2026
HomeNewsEkonomiEmas Menjadi Penyumbang Utama Inflasi November 2024

Emas Menjadi Penyumbang Utama Inflasi November 2024

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Senin (2/12/2024), November 2024 inflasi bulanan (m-t-m) mencapai 0,30 persen. Melesat dibanding Oktober 2024 yang tercatat 0,08 persen. Sebelumnya selama Mei-September 2024 ekonomi Indonesia mengalami deflasi.

Inflasi adalah kondisi di mana harga sekumpulan barang dan jasa yang disurvei mengalami peningkatan dibanding periode sebelumnya, yang dicerminkan melalui peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK). Sedangkan deflasi sebaliknya, harga sekumpulan barang dan jasa yang disurvei mengalami penurunan IHK.

Juga meningkat cukup tinggi, inflasi tahun kalender atau year to date (y-t-d) menjadi 1,12 persen, dibanding 0,82 persen pada Oktober 2024.

Kemudian juga inflasi inti dari 2,21 persen menjadi 2,26 persen secara tahunan yoy, dan dari 1,91 persen menjadi 2,09 persen ytd. Sedangkan secara bulanan (mtm), inflasi inti menurun dari 0,22 persen menjadi 0,17 persen.

Inflasi inti mengukur kenaikan harga barang dan jasa di luar bahan makanan yang masuk komponen bergejolak (volatile food), dan harga komoditas yang diatur pemerintah (administered prices) seperti BBM.

Karena itu inflasi inti menjadi indikator daya beli masyarakat dari konsumsi barang sekunder dan tersier alias non pangan. Pemerintah kerap menyatakan, peningkatan inflasi inti menunjukkan daya beli tidak melemah.

Sementara inflasi tahunan (yoy) terus melandai menjadi 1,55 persen pada November 2024, dibanding 1,71 persen pada Oktober 2024, 1,84 persen September 2024, 2,12 persen Agustus 2024, dan 2,13 persen Juli 2024.

Menurut BPS, inflasi y-on-y terjadi karena kenaikan harga sebagian besar kelompok pengeluaran. Antara lain kelompok makanan, minuman dan tembakau 1,68 persen, pakaian dan alas kaki 1,20 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,59 persen.

Kemudian kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,08 persen, kesehatan 1,65 persen, transportasi 0,03 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,49 persen, pendidikan 1,89 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,40 persen, dan perawatan pribadi dan jasa lainnya 7,26 persen.

Secara bulanan (mtm), penyumbang inflasi terbesar adalah bawang merah (0,10 persen), tomat (0,10 persen), emas perhiasan (0,04 persen), daging ayam ras (0,03 persen), dan minyak goreng (0,03 persen).

Sementara secara tahunan (yoy) penyumbang inflasi terbesar adalah emas perhiasan (0,36 persen), sigaret kretek mesin (0,13 persen), beras (0,11 persen), bawang merah (0,11 persen), dan kopi bubuk (0,10 persen).

Berita Terkait

Ekonomi

Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun

Serupa dengan sektor manufaktur yang makin ekspansif selama triwulan...

Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Jumat (17/4/2026), kinerja industri pengolahan...

Beda dengan Fitch dan Moody’s, S&P Nyatakan Prospek Utang RI Tetap Stabil

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar positif dari...

Sepanjang 2025 Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp435 Triliun

Di tengah berbagai tantangan, dan prediksi pertumbuhan ekonomi global...

Berita Terkini