Minggu, April 5, 2026
HomeNewsEkonomiKepercayaan Industri Menurun, Kemenperin: Masih Karena Banjir Produk Impor

Kepercayaan Industri Menurun, Kemenperin: Masih Karena Banjir Produk Impor

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Desember 2024 masih bertahan di zona ekspansi sebesar 52,93, namun turun 0,02 poin dibanding November 2024, dan meningkat 1,61 poin dibanding Desember 2023.

“IKI Desember 2024 ditopang ekspansi 19 subsektor dengan kontribusi terhadap PDB industri manufaktur nonmigas triwulan dua 2024 mencapai 90,5 persen,” kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif, melalui keterangan tertulis, Senin (30/12/2024).

IKI Desember 2024 juga ditunjang oleh ekspansi seluruh indeks pembentuk IKI. Yaitu, indeks pesanan baru, indeks produksi, dan indeks persediaan.

Indeks produksi mengalami kenaikan terbesar, dan berubah dari kontraksi (49,72) menjadi ekspansi (55,53) atau naik 5,81 poin.

Sedangkan indeks pesanan baru dan persediaan mengalami penurunan 3,49 poin menjadi 50,71 dan 0,1 poin menjadi 54,58.

Peningkatan indeks produksi didorong oleh persiapan industri pengolahan menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru.

Tiga subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah industri alat angkutan lainnya, industri peralatan listrik, dan industri kertas dan barang dari kertas.

Sementara empat subsektor utama mengalami kontraksi IKI. Yaitu, industri minuman, industri tekstil, industri komputer, barang elektronik dan optik, serta industri pengolahan tembakau.

“IKI empat subsektor terkontraksi akibat penurunan pesanan baru,” ungkap Febri. Selain tidak stabilnya kondisi global yang berpengaruh pada penurunan demand, juga karena kenaikan harga jual eceran produk hasil pengolahan tembakau, wacana cukai minuman berpemanis, dan pencantuman label nutri-level.

Baca juga: Pelaku Industri Masih Gamang dengan Prospek Usahanya

Kenaikan PPN menjadi 12 persen akan berdampak terhadap penurunan utilisasi industri manufaktur 2-3 persen. Tapi penurunan itu sudah diantisipasi dengan dirilisnya paket kebijakan ekonomi oleh pemerintah pertengahan Desember lalu untuk menggairahkan industri.

“Dari laporan yang diterima Kemenperin, banjir produk impor murah lebih memberatkan industri daripada kenaikan PPN 12 persen,” kata Febri.

Banjir produk impor itu dapat menurunkan utilisasi industri hingga 10 persen, yang mengakibatkan industri domestik kalah bersaing, kemudian kolaps, dan melakukan PHK.

“IKI Desember harusnya bisa lebih tinggi. Penurunan masih disebabkan oleh pemberlakuan relaksasi impor. Karena itu Kemenperin mendorong kementerian/lembaga lain merealisasikan kebijakan pro industri, terutama pembatasan impor produk jadi,” tegas Febri.

Ia menjelaskan, kenaikan PPN 12 persen akan menaikkan harga bahan baku dan bahan penolong, tapi industri bisa menyesuaikan dengan menurunkan utilisasi sedikit dan menaikkan harga jual.

“Namun, industri sulit menurunkan harga jual bila bersaing dengan produk impor jadi yang harganya sangat murah,” tutup Febri.

Berita Terkait

Ekonomi

Kepala BPS Bilang Backlog Perumahan 13 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan,...

Forum Bisnis Indonesia-Korea Sepakati Kerjasama USD10,2 Miliar

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Kedutaan Besar Republik...

Meningkat Pesimisme Pelaku Industri Terhadap Prospek Usahanya

Penurunan ekspansi manufaktur Indonesia pada Maret 2026, baik karena...

Berita Terkini