Senin, Oktober 19, 2026
HomeNewsEkonomiMengenal Investasi Obligasi: Pohon yang Berbuah Rutin

Mengenal Investasi Obligasi: Pohon yang Berbuah Rutin

Investasi cerdas yang banyak dilakukan dengan membuat uang yang “bekerja” sementara pemiliknya tidak melakukan apapun namun penghasilannya terus bertambah. Ibaratnya, memiliki pohon yang berbuah rutin tanpa perlu kita rawat setiap hari, seperti inilah konsep investasi di obligasi.

Sederhananya, membeli obligasi itu seperti menanam pohon. Saat kita menanam pohon (pokok investasi) hari ini, lalu pohon tersebut akan berbuah (kupon) secara rutin. Ketika tiba waktunya panen raya (jatuh tempo), pohon (pokok investasi) akan kembali utuh ke tangan kita.

Dikutip dari laman resmi OCBC NISP Senin (19/10), ada tiga keuntungan yang membuat investasi obligasi menjadi alternatif portofolio yang perlu diupayakan. Pertama, kupon yang secara berkala menjatuhkan “buahnya” ke keranjang dan menjadi sumber cash flow untuk kita mendapatkan passive income.

Kedua, capital gain berupa pohon yang memiliki nilai pasar atau harga yang naik-turun mengikuti musim (kondisi suku bunga). Suku bunga naik cenderung membuat harga obligasi turun sementara suku bunga turun cenderung membuat harga obligasi naik.

Artinya, jika kita menjual pohon di harga premium maka bisa menikmati capital gain. Ketiga, proteksi nilai pokok karena untuk merawat pohon hingga akhir masa panen (jatuh tempo), pokok investasi akan dikembalikan 100 persen.

Kendati demikin tetap perlu diperhatikan beberapa risiko yang bisa terjadi. Risiko suku bunga ketika harga obligasi turun saat kondisi suku bunga naik. Risiko ini terjadi jika kita menjual obligasi sebelum jatuh tempo.

Risiko gagal bayar apabila penerbit obligasi tidak mampu memenuhi kewajibannya baik membayar kupon secara berkala maupun melunasi pokok pada saat jatuh tempo. Kemudian risiko likuiditas ketika investor tidak bisa menjual obligasi dengan cepat di harga wajar saat membutuhkan dana sebelum jatuh tempo.

Baca juga: Investasi Obligasi Negara Ritel yang Dijamin Cuan

Untuk berbagai jenis obligasi di Indonesia, kitab isa memilih obligasi domestic yang diterbitkan dan diperdagangkan dalam mata uang lokal oleh penerbit lokal di pasar dalam negeri. Sementara itu obligasi asing (foreign bonds) merupakan obligasi yang diterbitkan oleh entitas asing di pasar domestik yang menggunakan uang lokal negara penerbit. Ada juga obligasi dalam negeri dalam mata uang asing.

Dilihat juga obligasi berdasarkan penerbitnya, bisa obligasi yang diterbitkan pemerintah untuk membiayai APBN seperti ORI, SR, ST, SBR, dan FR. Obligasi yang diterbitkan perusahaan untuk ekspansi atau refinancing seperti obligasi bank, properti, atau infrastruktur.

Obligasi berdasarkan penjualan seperti pasar perdana yaitu yang diperdagangkan langsung dari penerbit saat masa penawaran (offering period) dengan harga PAR (harga dengan nilai 100 persen sama dengan pokok). Sementara pasar sekunder yaitu diperdagangkan setelah masa penawaran berakhir di pasar sehingga harga ditentukan oleh mekanisme jual-beli di pasar.

Baca juga: Modernland Sepakati Penyelesaian Obligasi USD280 Juta Melalui Pertukaran Utang dengan Landbank

Terakhir, pahami juga beberapa terminology di obligasi. Di antaranya kupon atau pendapatan bunga yang dibayarkan penerbit kepada investor dalam periode tertentu. Harga PAR di level 100 persen, harga premium di atas harga PAR, harga diskon di bawah harga PAR. Tenor atau jangka waktu obligasi hingga jatuh tempo, biasanya dalam tahun.

Istilah lainnya, yield to maturity (YTM), perkiraan tingkat imbal hasil per tahun yang diperoleh apabila membeli obligasi pada harga tertentu dan menahannya hingga jatuh tempo. Capital gain atau loss, potensi keuntungan atau kerugian dari selisih yang diterima saat jual-beli.

Berita Terkait

Ekonomi

Kadin Ajak MSCI Bijak Nilai Pasar Modal Indonesia

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya...

WALHI Telusuri yang Terlibat dan Diuntungkan oleh Karhutla

Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) meluncurkan kajian berjudul “Siapa di...

Menkeu-Wamenkeu Bicara Bonus Demografi, Tinggal 15 Tahun Bagi RI Memanfaatkannya

Bonus demografi adalah kondisi ketika jumlah penduduk usia produktif...

Berita Terkini