Sabtu, Mei 30, 2026
HomeBerita PropertiMeikarta Bikin Orang Seperti Trauma Beli Apartemen

Meikarta Bikin Orang Seperti Trauma Beli Apartemen

Proyek megasuperblok Meikarta (500 ha) di Lippo Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, hasil pengembangan Lippo Group ditawarkan dengan gegap gempita dan pemasarannya dilakukan secara nasional dari Sabang hingga Merauke. Masyarakat tertarik karena apartemen ini ditawarkan seharga mulai dari Rp100 jutaan per unit dengan konsep pengembangan kota baru vertikal yang sangat modern.

Diakui banyak pengembang, proyek Meikarta langsung membuat proyek-proyek apartemen lain di Bekasi dan sekitarnya langsung drop penjualannya. Semua melirik ke Meikarta, baik konsumen investor maupun end user yang membeli untuk dihuni sendiri, karena tertarik dengan harganya yang terjangkau dan prospek peningkatan investasinya menyusul pesatnya pengembangan infrastruktur di Bekasi.

Kemudian terungkap kasus suap yang dilakukan direksi Lippo Group terhadap Bupati Bekasi dan jajarannya serta anggota legislatif (DPRD) terkait perizinan perluasan area Meikarta, menyusul operasi tangkap tangan KPK. Pamor Meikarta pun langsung drop. Pihak Lippo Group sendiri mengklaim proyek tidak terpengaruh oleh kasus tersebut dan akan terus dilanjutkan. Tapi, kenyataannya banyak konsumen yang membatalkan pememesanan dan menarik kembali uangnya.

Adanya kasus Meikarta itu juga telah membuat penjualan apartemen lain khususnya di Bekasi hingga Cikarang dan sekitarnya kembali menggeliat. Hanya, tingkat penyerapannya tetap masih sangat kecil bila dibandingkan 3-4 tahun lalu. Bahkan, kasus Meikarta dampaknya juga agak luas terhadap pasar apartemen.

“Situasi bisnis properti memang lebih lesu, tapi kasus Meikarta membuat orang jadi seperti trauma beli apartemen khususnya yang uangnya pas-pasan. Makanya pergerakannya lebih lambat lagi. Sebagai pengembang kita harus melakukan edukasi untuk memperbaiki image ini,” kata Wahyu Sulistio, Direktur PT Metropolitan Land Tbk (Metland) kepada housingestate.id dalam sebuah acara di Bekasi akhir pekan lalu.

Namun begitu, Wahyu mengaku tetap optimistis karena pasar untuk segmen menengah ke bawah sangat besar. Terlebih perlambatan yang terjadi saat ini lebih karena faktor psikologis. Ia berharap saat pemerintahan baru hasil pemilu terbentuk kelak, situasinya sudah lebih baik dan masyarakat kembali melakukan transaksi properti.

Berita Terkait

Ekonomi

Wamenkeu Suahasil: Pemangkasan Anggaran 2025 Terbukti Tidak Ganggu Pertumbuhan Ekonomi

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan, tahun lalu pemerintah...

Jaga Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Siapkan Aneka Stimulus Ini pada Semester II

Pemerintah terus mengevaluasi kebijakan bekerja dari rumah atau work...

Pakar UGM: Narasi Optimis Pemerintah Tidak Sesuai dengan Realitas

Terdapat jarak yang makin lebar antara narasi optimis pemerintah...

Menkeu: Supaya Ekonomi Bisa Tumbuh 8 Persen, Cukupi Likuiditas Perbankan

Pemerintah menyiapkan dua mesin pertumbuhan dengan menggabungkan kekuatan belanja...

Berita Terkini