HousingEstate, Jakarta - ITC adalah nama pusat perdagangan (trade centre) yang sudah dikenal banyak orang, terutama di beberapa kota terbesar Indonesia seperti Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) serta Surabaya. Sekarang mungkin pamornya perlu ditingkatkan lagi menyusul perkembangan teknologi informasi  dan gaya hdup belanja online yang demikian pesat.

Saat jaya-jayanya ITC adalah tempat orang membeli segala rupa barang dengan harga lebih terjangkau. Ingat saja ITC Mangga Dua, tempat orang membeli aneka pakaian dan bahan pakaian, serta ITC Roxy Mas, lokasi favorit orang mencari gadget. Keduanya contoh ITC yang ada di Jakarta. Masih banyak ITC yang lain baik di Jabodetabek maupun beberapa kota besar lain.

Semuanya dikembangkan Duta Pertiwi, salah satu anak usaha Sinar Mas Land (SML), grup usaha properti di bawah konglomerasi Sinar Mas Group (SMG). Tapi, tahukah anda siapa yang menggagas trade centre yang kemudian menjadi salah satu merek dagang tersohor SML itu?

Ir. Yan Mogi

Ir. Yan Mogi

Dialah Yan Mogi (63), Chairman SMR (Sumber Mitra Realtindo) Group, salah satu grup usaha developer di Jakarta yang mengembangkan berbagai proyek perumahan dan properti komersial di Jabodetabek, Bandung, dan Balikpapan. Yan yang orang Manado juga ipar bos besar SML Muktar Widjaja, salah satu anak Eka Tjipta Widjaja, founding father SMG yang meninggal dunia 2019 lalu.

Muktar menikah dengan Lucy, salah satu adik Yan Mogi. Eka sudah lama kenal dengan Karel Mogi, ayah Yan Mogi, karena sama-sama berdagang kopra di Manado, sebelum beralih ke kelapa sawit dengan salah satu produk tersohornya Bimoli.

Yan merantau ke Jakarta untuk kuliah di jurusan teknik sipil Universitas Trisakti. Setelah lulus tahun 1984, Eka mengajak Yan bergabung sebagai profesional untuk mengembangkan divisi real estate SMG. Yan memulai sebagai karyawan biasa dengan gaji Rp250 ribu/bulan, sampai menjadi managing director divisi real estate SMG yang membawahi sembilan perusahaan dengan gaji Rp25 juta/bulan di luar bonus dan lain-lain.

Delapan tahun di SMG, bekas ketua umum pengurus pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) itu, keluar dan mendirikan grup usaha sendiri dengan nama SMR. Selama memimpin divisi real estate SMG, Yan Mogi sukses mengembangkan berbagai proyek perumahan, apartemen, ruko/rukan di seantero Jabodebatek, dan trade centre ITC, selain menjadi salah satu direktur di PT Bumi Serpong Damai, pengembang BSD City, Serpong, Tangerang, mewakili SMG sebagai salah satu pemegang saham.

“Saya mengerjakan segala macam, sehingga berbagai proyek properti Sinar Mas benar-benar hasil tangan saya,” katanya dalam sebuah wawancara dengan HousingEstate sekian tahun lalu. “Saya menyampaikan banyak gagasan selama bekerja di SMG. Salah satunya konsep ITC yang kemudian menjadi trade mark properti komersial Duta Pertiwi,” lanjutnya.

Konsep itu lahir saat Yan mengembangkan kawasan Mangga Dua, Jakarta. Waktu itu di jalan yang menghubungkan kawasan Gunung Sahari dan Kota itu sudah berdiri Pasar Pagi Mangga Dua. Statusnya sewa 20 tahun. Ia pun berpikir, apa yang akan diperbuatnya dengan tanah SMG di sebelah Pasar Pagi itu. Kalau dibangun shopping centre sewa, cash flow perusahaan terlalu berat. Maka, ia pun melakukan studi banding ke Hongkong dan Taiwan. Di sana ia melihat trade centre yang terdiri dari lot-lot kecil, tempat orang berdagang. Di lot-lot itu hanya ada pesawat telepon plus pajangan barang contoh.

Pulang ke Indonesia, ia pun menerapkan konsep serupa di Mangga Dua. Bedanya, lot-lot (kios)-nya dijual. Hanya di lantai tiga dan empat ada ruang yang didesain khusus untuk memajang barang dan disewakan. Jadi, pembeli dari manapun termasuk luar negeri, bisa pesan barang di situ. Pedagang meneruskan pesanan ke pabrikan dan barang pun dikirim. “Itulah yang saya namakan international trade centre (ITC). Karena itu awalnya ITC itu ada lambang bola dunianya,” katanya.

Konsepnya sukses. Berbondong-bondong pedagang tekstil pindah ke ITC Mangga Dua. Apalagi, trade centre itu lebih luas dan dilengkapi AC. Belakangan, kios-kios di lantai tiga dan empat itu juga dijual karena membludaknya peminat. Konsep ITC pun berubah menjadi semata-mata trade centre.

Sukses dengan ITC Mangga Dua, Yan Mogi meneruskan kiprahnya membangun trade centre bahan bangunan di seberangnya. Target pasarnya para pedagang bahan bangunan di Pinangsia yang lokasinya sudah crowded. Ini pun sukses. Setelah itu menyusul Mal Mangga Dua, apartemen dan Hotel Dusit Mangga Dua, serta ITC Roxy Mas dan ITC Cempaka Mas, sebelum mantan ketua REI Jakarta itu keluar dar SMG dan membentuk bisnisnya sendiri.

SML kemudian meneruskan pembangunan ITC itu di banyak lokasi. Sekarang SML akan mereformasi konsep semua ITC tersebut, sesuai dengan perkembangan zama dan perubahan gaya hidup masyarakat. Akankah SML sukses meredefinisi trade centre itu seperti suksesnya Yan Mogi menggagas dan mengembangkan ITC dulu? Mari kita tunggu.