HousingEstate, Jakarta - Pemerintah terus mendorong pengembangan kawasan yang terintegrasi dengan transportasi publik atau transit oriented development (TOD). Konsep TOD disebut sebagai solusi penataan kawasan perkotaan yang padat dengan menyediakan hunian dan berbagai fasilitas dengan basis transportasi publik di dalam satu kawasan yang terintegrasi.

Salah satu kawasan yang dikembangkan dengan konsep TOD yaitu Dukuh Atas, Jakarta Pusat, yang juga merupakan hub pertemuan berbagai moda transportasi umum seperti kereta komuter, Transjakarta, MRT Lebak Bulus-Kota, hingga nantinya kereta ringan LRT Jabodebek. Berbagai moda transportasi publik di Dukuh Atas ini juga diintegrasikan dengan berbagai gedung di sekitarannya.

Kawasan TOD di Stasiun MRT Dukuh Atas ini merupakan kawasan terintegrasi pertama di Jakarta yang saat ini berkembang menjadi pusat aktivitas seni dan budaya masyarakat baik dari Jakarta maupun kawasan lain di sekitarnya. Akhirnya keberadaan kawasan ini bukan hanya berfungsi sebagai stasiun tapi juga berkembang fungsi-fungsi properti lainnya hingga menjadi ruang unjuk kreativitas masyarakat dan itu masih akan terus berkembang.

Kegiatan yang berkembang seperti pameran seni lukis, musik jalanan, bazar kuliner, pertunjukan tari, hingga yang saat ini viral yaitu pertunjukan busana jalanan (street fashion) yang dikenal dengan Citayam Fashion Week. Hal ini akhirnya menghiasi kawasan yang sebelumnya terkenal dengan kemacetan dan kesemerawutan lalu lintas menjadi ikon ataupun spot wilayah yang terus berkembang dengan berbagai fungsi.

Peningkatan jumlah aktivitas di sekitar Stasiun MRT Dukuh Atas ini telah menunjukkan kalau fasilitas publik bisa berfungsi optimal seperti ini. Salah satu yang viral yaitu ajang Citayam Fashion Week hingga plesetan istilah SCBD yang bukan Sudirman Central Business District tapi Sudirman Citayam Bojonggede, Depok.

“Unjuk kreativitas yang saat ini terus berkembang juga merupakan mandat yang kami emban karena kami bukan hanya menyediakan sebuah sistem transportasi perkotaan tapi juga menghadirkan ruang ketiga untuk memberikan pengalaman perjalanan bagi setiap pengguna menjadi ruang temu dan interaksi masyarakat dengan berbagai latar belakang berbeda,” ujar Mohamad Aprindy, Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), dikutip dari laman resminya, Sabtu (6/8).

PT MRT Jakarta selaku pengelola transportasi publik hingga Stasiun MRT sangat mendukung untuk menjadikan ruag-ruang publik khususnya di sekitar Stasiun MRT menjadi tempat untuk berkreasi dan itu merupakan berbagai dampak yang bisa terus berkembang di kawasan TOD. Aprindy hanya menghimbau supaya masyarakat bisa menjaga kebersihan dan seluruh sarana yang ada karena merupakan milik bersama.

Selain itu untuk menyikapi berbagai peningkatan aktivitas di sekitaran Stasiun MRT ini, pihak MRT Jakarta juga terus melakukan edukasi dan kolaborasi dengan berbagai komunitas. Kegiatan edukasi terkait konsep ruang ketiga khususnya di Dukuh Atas juga terus dilakukan khususnya untuk membangun kesadaran masyarakat terkait aktivitasnya dengan fasilitas umum.

Hal ini juga sesuai dengan konsep yang terus dihadirkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang membangun berbagai fasilitas publik untuk semua orang bahkan dari luar Jakarta. Salah satu wujudnya dengan kegiatan street fashion yang dilakukan di Taman Dukuh Atas bisa dihadiri oleh ribuan anak muda yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Akhirnya, paradigma membangun jalan raya untuk memfasilitasi kendaraan bermotor seperti tergeser dengan paradigma untuk pejalan kaki dan hal ini ditopang Jakarta dengan terus mengubah wajahnya seperti membangun trotoar yang lebar dan nyaman seperti yang terdapat di sepanjang koridor Jalan Jenderal Sudirman.

Hal ini juga didukung oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menyebut aksi masyarakat menunjukan kreatifitasnya di fasilitas publik ini sebagai Demokratisasi Jalan Sudirman.