Kamis, Mei 14, 2026
HomeNewsEkonomiTriwulan I Ekonomi Tumbuh di Bawah 5 Persen. Kata BPS Masih Bagus....

Triwulan I Ekonomi Tumbuh di Bawah 5 Persen. Kata BPS Masih Bagus. Ini Alasannya

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti melaporkan, Senin (5/5/2025), ekonomi Indonesia berdasarkan produk domestik bruto (PDB) triwulan satu 2025 atas dasar harga berlaku mencapai Rp5.665,9 triliun, dan atas dasar harga konstan Rp3.264,5 triliun.

Dengan demikian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2025 tumbuh 4,87 persen, lebih rendah dibanding triwulan satu 2024 (year on year/yoy) yang tercatat 5,11 persen, juga lebih rendah dibanding triwulan IV 2024 yang tercatat 5,02 persen.

“Bila dibandingkan dengan kuartal empat 2024 atau secara kuartalan (q-t-q), ekonomi Indonesia terkontraksi (minus) 0,98 persen,” kata Amalia dalam konferensi pers di Jakarta.

Pertumbuhan PDB triwulan pertama 2025 itu terbilang terendah sejak triwulan tiga 2021 ketika perekonomian mati suri digasak pandemi Covid-19. Pada triwulan III 2021 ekonomi tumbuh 3,53 persen. Setelah itu selalu tumbuh di atas itu. Hanya dua triwulan pernah di bawah 5 persen. Yaitu, pada triwulan tiga 2024 sebesar 4,95 persen dan triwulan tiga 2023 sebesar 4,93 persen.

Baca juga: BI: Pertumbuhan Ekonomi 2024 dan 2025 Akan Lebih Rendah dari Perkiraan

Amalia menjelaskan, dari sisi produksi, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 10,52 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, ekspor mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 6,78 persen. Sedangkan lapangan usaha jasa pendidikan mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 8,45 persen.

Dari sisi pengeluaran, pada triwulan satu 2025 seluruh komponen pembentuk pertumbuhan tumbuh positif secara tahunan, kecuali konsumsi pemerintah yang terkontraksi (minus) 1,3 persen. Konsumsi rumah tangga tumbuh 4,89 persen, investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 2,12 persen, ekspor 6,78 persen, konsumsi LNPRT 3,07 persen.

Konsumsi rumah tangga dan PMTB masih menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar, mencapai 54,53 persen dan 28,03 persen atau total 82,6 persen. Selebihnya 17,4 persen disumbang konsumsi pemerintah (5,88 persen) serta konsumsi LNPRT dan ekspor.

Menurut Amalia, pertumbuhan ekonomi triwulan satu 2025 masih relatif bagus dibanding triwulan satu tahun-tahun sebelumnya, kendati pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi turun, dan pengeluaran pemerintah terkontraksi.

“Triwulan satu 2024 ada belanja pemerintah yang cukup besar, terutama untuk pemilu, tahun ini tidak ada. Itu salah satunya yang membuat belanja pemerintah terkontraksi,” ujarnya.

Ia menepis kemungkinan kontraksi belanja pemerintah itu karena kebijakan efisiensi anggaran Rp306,69 trilun yang dilakukan pemerintahan Prabowo. Alasannya, ada realokasi anggaran dari efisiensi itu yang dampaknya baru akan kelihatan pada triwulan dua 2025.

Pasalnya, pembukaan blokir anggaran menyusul kebijakan efisiensi itu baru dilakukan Kemenkeu pada Maret. Setelah pembukaan blokir itu, baru kementerian dan lembaga (K/L) bisa melakukan belanja. “Jadi, dampaknya baru kelihatan pada kuartal dua 2025 dan seterusnya,” jelas Amalia.

Baca juga: Sesuai Prediksi, Pertumbuhan Ekonomi 2024 di Bawah Target

Sementara mengenai konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,89 persen dibanding 4,91 persen pada triwulan satu 2024, padahal ada momen Ramadan dan Idul Fitri pada Maret, Amalia juga menyatakan pada triwulan satu tahun ini juga tidak ada pemilu yang mendorong belanja seperti triwulan pertama 2024.

Sedangkan momen Ramadan dan Idul Fitri, untuk Idul Fitrinya jatuh pada 31 Maret 2025. Sedangkan libur panjangnya baru berlangsung setelahnya atau bulan April.

“Jadi, libur panjang Lebaran yang juga mendorong belanja belum terekam seluruhnya pada triwulan pertama 2025, melainkan baru nanti pada triwulan dua. Hari pertama Idul Fitri jatuh di triwulan satu, tapi liburan selanjutnya belum terekam dalam triwulan pertama, baru nanti di triwulan dua,” ucap Amalia.

Berita Terkait

Ekonomi

LPEM FEB UI Ragukan Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ini Alasannya

Peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi...

April Konsumen Tahan Belanja, Perbanyak Tabungan

Survei Konsumen Bank Indonesia April 2026 yang dipublikasikan awal...

Ada Perang di Timur Tengah, WNI yang Melancong ke Luar Negeri Malah Naik Tinggi

Perang AS-Israel dengan Iran sejak akhir Februari 2026 melambungkan...

Berita Terkini