Nutrisi Finansial Perlu Diracik, Simak Strateginya Dari Bank BCA
Cashflow, aset, hingga investasi bagi sebagian orang mungkin dianggap istilah-istilah umum para ekonomi ataupun investor. Padahal setiap yang sudah memiliki pendapatan dan mengeluarkan biaya-biaya rutin (cashflow), kita harus mulai berpikir untuk meningkatkan penghasilan tersebut.
Bicara investasi misalnya, ada dua strategi utama: Strategic Asset Allocation (SAA) dan Tactical Asset Allocation (TAA). Kedua strategi ini fokus pada alokasi kelas aset yang umumnya dibagi tiga: kas (pasar uang), obligasi (surat utang), dan saham.
Dikutip dari laman Bank BCA Rabu (31/12), penting bagi kita memahami strategi maupun jenis-jenis surat berharga supaya portofolio investasi yang kita bangun tetap sehat dan bisa bertumbuh optimal.
Untuk memudahkan, mari analogikan portofolio investasi tersebut sebagai sebuah piring makan sehat yang terdiri dari tiga komponen nutrisi utama yaitu karbohidrat, protein, dan serat atau dengan kata lain memahami komponen nutrisi aset.
Kas sebagai karbohidrat atau energi harian. Karbohidrat adalah sumber energi yang siap dipakai dan kas adalah uang tunai yang likuid sehingga siap dipakai untuk kebutuhan jangka pendek dan mendesak.
Semakin tinggi aktivitas fisik maka semakin tinggi kebutuhan karbohidrat di hari itu. Semakin tinggi kebutuhan jangka pendek maka semakin tinggi porsi kas yang perlu dimiliki.
Namun jika portofolio investasi hanya berinvestasi pada kas maka pertumbuhannya tidak akan optimal. Hal ini karena imbal hasil instrumen kas biasanya hanya sedikit lebih tinggi dari inflasi.
Baca juga: BEI-Mandiri Group Hadirkan “Cerdas Investasi, Finansial Mandiri”
Obligasi sebagai serat atau keseimbangan dan kesehatan. Seperti fungsi serat yang membantu menjaga kestabilan pencernaan, obligasi atau surat utang berfungsi untuk mencegah gejolak ekstrem dalam portofolio. Kupon atau imbal hasil dari obligasi tetap dibayarkan secara periodik sehingga obligasi dapat menstabilkan portofolio saat kinerja pasar saham sedang fluktuatif. Obligasi juga cenderung bersifat defensif dengan imbal hasil yang diberikan umumnya lebih rendah dibandingkan saham tetapi bisa memberikan arus kas secara rutin.
Sementara saham sebagai protein atau untuk otot dan pertumbuhan. Protein adalah bahan baku utama untuk membangun otot dan tumbuh kembang. Saham adalah salah satu instrumen yang sering digunakan untuk membangun kekayaan jangka panjang (capital gain). Tanpa protein, otot akan menyusut atau aset tergerus inflasi.
Namun asupan protein yang terlalu banyak dan tidak digunakan juga bisa membebani ginjal dan meningkatkan kadar lemak. Terlalu banyak saham dalam portofolio yang tanpa instrumen lain bisa membuat portofolio sangat fluktuatif sehingga berisiko tinggi. Jika pasar saham sedang turun maka dampaknya akan sangat besar terhadap portofolio.
Saham adalah investasi jangka panjang. Manusia tidak langsung berotot setelah makan sepiring penuh dada ayam dalam sehari. Portofolio investasi juga tidak dijamin langsung naik signifikan setelah berinvestasi Saham dalam waktu singkat.
Maka aplikasinya, SAA merupakan pedoman gisi seimbang untuk jangka panjang sementara SAA fokus pada investasi jangka panjang. SAA dapat diibaratkan sebagai pedoman gizi harian untuk kebutuhan tubuh selama 5-10 tahun ke depan. Investor menentukan komposisi ideal karbohidrat, protein, dan serat di awal berdasarkan profil risiko dan tujuan finansial jangka panjang lalu menjaganya secara konsisten.
Contoh penerapannya seperti ini, andaikan seorang investor agresif yang mengejar pertumbuhan aset dan menetapkan menu harian dengan porsi 60 persen saham (protein), 30 persen obligasi (serat), dan 10 persen kas (karbohidrat). Jika pasar saham naik tajam dan porsi saham naik drastis menjadi 80 persen maka sebaiknya investor tersebut melakukan rebalancing dengan menukar sebagian porsi saham tersebut dengan obligasi atau kas agar porsinya kembali ke rencana awal yaitu 60-30-10). Tujuannya agar kesehatan portofolio tetap terjaga untuk jangka panjang.
TAA merupakan penyesuaian menu musiman. Jika SAA adalah pedoman gizi jangka panjang, maka TAA adalah strategi jangka pendek untuk merespons kebutuhan jangka pendek. TAA dapat diibaratkan sebagai penyesuaian menu makan saat ingin diet atau bulking (meningkatkan massa otot melalui surplus kalori). Dalam konteks portofolio, investor melakukan sedikit penyimpangan yang sifatnya hanya sementara dari SAA untuk memanfaatkan peluang pasar atau menghindari risiko untuk jangka pendek.
Contoh penerapannya, seorang investor agresif yang mengejar pertumbuhan aset melihat banyak indikasi bahwa ekonomi akan melemah signifikan dan laba perusahaan akan turun, maka investor dapat melakukan perubahan dengan 60 persen saham menjadi 40 persen, 30 persen obligasi jadi 40 persen, dan 10 persen kas menjadi 20 persen.
Komposisi portofolio yang baru tersebut bisa bertahan untuk beberapa lama misalnya 3-12 bulan. Semua tergantung dengan analisis untuk ketiga kelas aset ke depannya. Maka bagi investor yang baru memulai perjalanan investasi sebaiknya menyusun SAA terlebih dahulu. Penting untuk membangun pola makan dengan gizi ideal (SAA) baru mencoba berbagai program diet musiman (TAA) yang rumit.
Baca juga: Starter Pack Financial Gen Z: Nabung, Investasi, Hingga Proteksi
Pastikan investasi memiliki komposisi kas (karbohidrat), obligasi (serat), dan saham (protein) yang pas untuk mendukung pertumbuhan aset di masa depan. Setelah berhasil menjaga keseimbangan tersebut, barulah bisa mulai bereksperimen dengan taktik-taktik lanjutan.
Dalam menyusun komposisi portofolio itu, para investor pemula juga dapat menggunakan Investment Goals pada fitur Investasi di aplikasi myBCA. Dengan Investment Goals, investor akan mendapatkan panduan mengenai alokasi dari jenis produk investasi yang perlu dibeli agar dapat mencapai tujuan investasi dengan mempertimbangkan berbagai faktor seperti tujuan investasi, nominal dana yang ingin dicapai dan jangka waktu untuk mencapai tujuan. Investor dapat memutuskan untuk membeli produk dengan panduan yang berdasarkan strategi investor sendiri.