Selama 50 Tahun BTN Sudah Biayai 6 Juta Rumah Senilai Rp530 Triliun
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk mencatat pertumbuhan laba bersih 22,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) per triwulan I/2026, senilai Rp1,1 triliun dibanding Rp904 miliar pada triwulan pertama 2025.
Menurut Direktur Utama Bank Tabungan Negara (BTN) Nixon LP Napitupulu, per triwulan satu 2026, perolehan laba yang moncer itu, didapat dari penyaluran kredit senilai Rp400,63 triliun atau naik 10,3 persen (yoy) dibanding Rp363,11 triliun pada triwulan pertama 2025.
Sebanyak Rp193,55 triliun merupakan KPR subsidi, tumbuh 7,7 persen (yoy) dari Rp179,70 triliun pada triwulan pertama 2025. Sementara untuk segmen KPR non-subsidi, posisi kredit telah mencapai Rp112,56 triliun atau naik 5,4 persen (yoy) dari Rp106,81 triliun pada triwulan satu tahun lalu.
Total sejak 1976 sampai awal April 2026, Bank BTN sudah menyalurkan kredit dan pembiayaan pemilikan rumah (KPR) untuk 6 juta unit hunian senilai Rp530 triliun.
Jika satu rumah dihuni rata-rata 4 orang, total ada 24 juta orang yang bisa memiliki rumah layak huni berkat dukungan pembiayaan dari Bank BTN.
Baca juga: Triwulan Satu Kredit BTN Tumbuh 10,3 Persen Jadi Rp400 Triliun, Laba Rp1,1 Triliun
Dalam kaitan itu, direksi BTN menyampaikan terima kasih atas keberpihakan pemerintah yang menempatkan sektor perumahan rakyat sebagai program prioritas nasional, karena kebijakan itu mendukung kinerja perseroan menjadi makin positif.
“Bagi BTN, hal ini bukan hanya memperkuat kinerja bisnis secara berkelanjutan dan sesuai prinsip GCG [good corporate governance], tapi juga mendorong kami untuk terus memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah dalam memenuhi kebutuhan hunian yang layak bagi masyarakat,” kata Nixon dalam konferensi pers Paparan Kinerja Kuartal I/2026 BTN di Menara BTN, Jakarta, Rabu (15/4/2026), betsamna jajaran direksi BTN.
Nixon menjelaskan, keberpihakan pada perumahan memiliki multiplier effect yang besar. Tidak hanya bagi penghuni rumah, tapi juga perekonomian nasional.
Baca juga: Presiden Apresiasi Kontribusi BTN dalam Penyaluran KPR FLPP
Sektor perumahan yang merupakan sektor padat modal, membutuhkan tenaga kerja lokal mulai dari pengembang hingga tukang. Untuk membangun rumah, 90 persen bahan bakunya berasal dari produk lokal. Selain itu, dari setiap rumah yang terjual, ada pendapatan negara berupa pajak.
“Sektor perumahan nasional bisa membuka peluang kerja bagi 12,5 juta orang di seluruh sektor terkait, dan setiap tambahan capital injection sebesar Rp1 triliun di industri ini, akan menambah keterlibatan tenaga kerja sebanyak 8.000 orang,” pungkas Nixon.