Sabtu, Juni 6, 2026
HomeNewsEkonomiKinerja Industri Disebut Membaik, Tapi Optimisme Pelaku Usaha Menurun

Kinerja Industri Disebut Membaik, Tapi Optimisme Pelaku Usaha Menurun

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan, Kamis (30/1/2025), Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Januari 2025 mencapai 53,10, meningkat 0,17 poin dibanding Desember 2024 dan naik 0,75 poin dibanding Januari 2024.

Peningkatan IKI Januari 2025 itu dipengaruhi oleh ekspansi seluruh variabel pembentuknya: pesanan baru, produksi, dan persediaan.

Namun, yang meningkat hanya indeks variabel pesanan baru 2,03 poin dibanding Desember 2024 menjadi 52,74.
Sementara variabel produksi menurun 2,14 poin dibanding bulan sebelumnya, kendati masih di zona ekspansi dengan indeks 53,39.

Begitu pula variabel persediaan, menurun 1,00 poin dibanding Desember 2024, meski juga masih di zona ekspansi dengan indeks 53,58.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengutip Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) versi Bank Indonesia (BI) menyatakan, dilihat dari daya beli masyarakat, IKK Desember 2024 meningkat 1,8 poin dibanding November.

Naiknya keyakinan konsumen itu dipengaruhi peningkatan indeks penghasilan saat ini, indeks ketersediaan lapangan kerja, dan indeks pembelian barang tahan lama (durable goods), namun tidak pada seluruh golongan.

Indeks tertinggi pada komponen penghasilan saat ini tercatat pada responden dengan pengeluaran lebih besar dari Rp5 juta dan kelompok usia 20-30 tahun.

Sedangkan untuk komponen ketersediaan lapangan kerja, meningkat pada seluruh tingkat pendidikan kecuali pascasarjana. Sementara untuk pembelian barang tahan lama, tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran Rp4,1-5 juta dan kelompok usia 31-40 tahun.

“Dengan kata lain, daya beli masyarakat stabil pada golongan menengah atas, namun mereka berhati-hati melakukan belanja. Sedangkan golongan bawah, daya belinya turun yang berpengaruh terhadap penyerapan produk manufaktur,” kata Febri.

Hal itu tercermin pada tiga subsektor dengan nilai IKI tertinggi (ekspansi). Yaitu, subsektor Industri Alat Angkutan Lainnya, Industri Peralatan Listrik, dan Industri Mesin dan Perlengkapan YTDL yang mayoritas konsumennya adalah perusahaan.

Sedangkan tiga subsektor mengalami kontraksi: Industri Pengolahan Lainnya, Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik, serta Industri Minuman, yang konsumennya didominasi rumah tangga atau perseorangan.

Baca juga: 100 Hari Pemerintahan Prabowo, Kinerja Industri Manufaktur Diklaim Membaik

Febri menjelaskan, berdasarkan identifikasi Tenaga Ahli IKI, kontraksi ketiga subsektor itu terjadi karena pelemahan daya beli khususnya kelas bawah, relaksasi impor yang menyebabkan banjir produk impor, fluktuasi ekonomi global, perubahan kebijakan pemerintah, dan gangguan rantai pasok.

Khusus kontraksi Industri Komputer, Barang Elektronik dan Optik, juga dipicu penurunan demand luar negeri akibat persaingan yang ketat di pasar domestik asing, permasalahan supply chain, serta isu relokasi pabrik elektronika dari RRT ke Indonesia, selain karena kondisi domestik belum stabil.

Sedangkan untuk industri minuman, faktor musiman mempengaruhi kontraksinya. Karenanya Tenaga Ahli IKI mengingatkan, perekonomian global tahun ini diperkirakan menghadapi tantangan yang tidak mudah.

Kemenperin sendiri mengklaim, secara umum kegiatan usaha Januari 2025 membaik dibanding Desember 2024. Terlihat dari persentase responden yang menjawab kondisi usahanya meningkat dan stabil naik dari 76,4 persen menjadi 76,8 persen.

Kendati demikian, kondisi ekonomi dan pasar yang masih diliputi ketidakpastian, membuat optimisme pelaku industri memandang kondisi 6 (enam) bulan ke depan turun dari 73,4 persen menjadi 72,5 persen.

Kemenperin sendiri, ungkap Febri, terus mendorong terbitnya berbagai kebijakan strategis dan pro-industri.

Antara lain kebijakan pengamanan bahan baku, ekspor, daya saing industri, dan permintaan produk manufaktur di pasar domestik.

Beberapa kebijakan tersebut di antaranya perpanjangan Program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), relaksasi kebijakan impor, dan paket stimulus ekonomi di sektor manufaktur.

Kebijakan HGBT bagi sektor industri akan diperpanjang penerapannya tahun ini, khususnya untuk tujuh industri: keramik, pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, kaca, dan sarung tangan karet.

“Diharapkan perpanjangan HGBT itu menjamin kepastian usaha dan daya saing, juga menjadi daya tarik investor untuk berinvestasi di Indonesia,” tegas Febri.

Terkait kebijakan TKDN, bertujuan meningkatkan investasi produksi, menciptakan lapangan pekerjaan, serta penggunaan bahan baku atau komponen dalam negeri.

Sebagai contoh, Kemenperin mendorong Apple Inc. memenuhi syarat TKDN untuk industri HKT (Handphone, Komputer Genggam dan Tablet), agar dapat melakukan penjualan produk-produk terbarunya di Indonesia.

Terkait relaksasi kebijakan impor, Kemenperin telah mengusulkan perubahan pelabuhan masuk (entry point), terutama bagi 7 komoditas produk jadi: elektronik, tekstil dan produk tekstil (TPT), pakaian jadi, alas kaki, kosmetik, keramik, katup, dan obat tradisional.

Berita Terkait

Ekonomi

Menkeu Purbaya: Perbaikan Ekonomi Benar-Benar Terjadi, Lonjakan Penerimaan Pajak Buktinya

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan, kinerja perekonomian Indonesia...

Wamenkeu Suahasil: Kredibilitas dan Komunikasi Pemerintah, Kunci Menjaga Kepercayaan Pasar

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menegaskan, kredibilitas dan...

Dolar AS Perkasa, Kunjungan Turis Asing Meninggi

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Selasa (2/6/2026), jumlah kunjungan...

Berita Terkini