Selasa, April 21, 2026
HomeNewsEkonomiTerus Menurunnya Inflasi Inti, Konfirmasi Melemahnya Daya Beli ​​​​

Terus Menurunnya Inflasi Inti, Konfirmasi Melemahnya Daya Beli ​​​​

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan dua hari lalu, Indeks Harga Konsumen (IHK) Juni 2025 mencatat inflasi 0,19 persen secara bulanan (mtm), dan secara tahunan (yoy) 1,87 persen. Masih terjaga di kisaran sasaran 2025 dan 2026 sebesar 2,5±1 persen.

Kelompok pangan yang harganya suka bergejolak (volatile food) mengalami inflasi bulanan 0,77 persen, setelah deflasi 2,48 persen (mtm) pada Mei 2025.

Inflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas beras, cabai rawit, dan bawang merah seiring dengan penurunan pasokan yang dipengaruhi oleh berakhirnya masa panen, serta gangguan produksi dan distribusi di beberapa wilayah.

Secara tahunan kelompok volatile food mengalami inflasi 0,57 persen (yoy), Mei 2025 yang mencatat deflasi 1,17 persen.

Sedangkan kelompok administered prices (barang yang harganya diatur pemerintah seperti BBM), mengalami inflasi 0,09 persen (mtm), meningkat dari Mei 2025 yang deflasi 0,02 persen (mtm).

Terutama disumbang komoditas tarif angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, dan sigaret kretek mesin (SKM), seiring peningkatan mobilitas pada periode libur sekolah, penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG di beberapa daerah, serta berlanjutnya transmisi kenaikan cukai hasil tembakau secara bertahap.

Secara tahunan, kelompok administered prices mencatat inflasi 1,34 persen (yoy), menurun dari inflasi Mei 2025 sebesar 1,36 persen (yoy).

Yang menarik, tingkat komponen inti mengalami inflasi yang terus menurun. Pada Juni 2025 sebesar 0,07 persen (mtm) dibanding 0,08 persen (mtm) pada Mei 2025. Terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga komoditas emas global.

Baca juga: Harga Beras Meningkat, Juni Indonesia Catat Inflasi

Sementara inflasi inti Juni 2025 secara tahunan tercatat sebesar 2,37 persen (yoy), menurun dari Mei 2025 sebesar 2,40 persen (yoy), dan April 2,50 persen (yoy).

Inflasi inti mengukur kenaikan harga barang dan jasa di luar volatile food dan administered prices. Karena itu inflasi inti menjadi indikator daya beli masyarakat dari konsumsi barang sekunder dan tersier alias non pangan.

Pemerintah kerap menyatakan, peningkatan inflasi inti menunjukkan daya beli tidak melemah. Deflasi yang terjadi pada tiga bulan pertama tahun ini bukan karena penurunan daya beli, melainkan karena penurunan harga pangan. Tapi, tiga bulan terakhir inflasi inti itu menunjukkan tren penurunan.

Menurut ekonom Muhammad Chatib Basri, ciri ekonomi yang mulai melambat adalah orang mulai mengurangi permintaan terhadap produk sekunder dan tersier. Konsumsinya makin didominasi oleh kebutuhan pangan.

Indikatornya adalah penurunan inflasi inti, yang menunjukkan daya beli masyarakat melemah karena harga pangan yang terus meningkat, di sisi lain pendapatan mereka tidak mengalami peningkatan signifikan.

Berita Terkait

Ekonomi

Triwulan Satu Likuiditas, Rentabilitas dan Margin Dunia Usaha Menurun

Serupa dengan sektor manufaktur yang makin ekspansif selama triwulan...

Manufaktur RI Kian Ekspansif, Tapi Belum Mampu Serap Lebih Banyak Tenaga Kerja

Bank Indonesia (BI) melaporkan, Jumat (17/4/2026), kinerja industri pengolahan...

Beda dengan Fitch dan Moody’s, S&P Nyatakan Prospek Utang RI Tetap Stabil

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar positif dari...

Sepanjang 2025 Transaksi Lintas Negara dengan Mata Uang Lokal Capai Rp435 Triliun

Di tengah berbagai tantangan, dan prediksi pertumbuhan ekonomi global...

Berita Terkini