Sabtu, Agustus 22, 2026
HomeMoneterEmas Warga RI di Bawah Bantal 1.800 Ton, BSI dan Pegadaian Diminta...

Emas Warga RI di Bawah Bantal 1.800 Ton, BSI dan Pegadaian Diminta Menariknya ke Bank Emas

Salah satu pendukung ekonomi Indonesia adalah keberadaan bank emas (bullion bank) , untuk menyimpan dan memperdagangkan komoditas emas.

Meskipun baru beroperasi 1 tahun, dua motor ekosistem bullion bank, Bank Syariah Indonesia (BSI) dan Pegadaian, sudah mengelola 153 ton emas dengan nilai sekitar Rp360 triliun atau USD20 miliar. Bahkan, update terkini kelolaan 2 bank emas tersebut telah mencapai 179 ton.

Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto saat menyampaikan keynote speech dalam acara Peluncuran Indonesia Bullion Market Association (IBMA) di Jakarta, Kamis (20/8/2026), pemerintah berharap Pegadaian dan BSI bisa tumbuh double digit dalam pengelolaan bank emas.

“Seperti tadi disampaikan Ketum IBMA Ibu Selfie, emas (milik warga RI) yang ada di bawah bantal mencapai sekitar 1.800 ton, dengan nilai luar biasa sebesar USD252 miliar. Tugas Pegadaian dan BSI, bagaimana bisa menarik dari USD252 miliar itu sekitar 20 persen ke instrumen keuangan atau perbankan. Kalau bisa dilakukan, itu sebuah pertumbuhan yang luar biasa,” kata Airlangga dikutip dari keterangan Kemenko Perekonomian.

Simpanan emas 1.700 ton itu, terang Airlangga, bisa membuat Indonesia menjadi negara dengan stok emas ketiga terbesar di dunia bila bisa ditempatkan di sistem keuangan bullion bank, di bawah AS yang memiliki 8.133 ton dan China 2.331 ton. Sebagai catatan, stok emas yang ada di Bank Indonesia saat ini hanya 70 ton.

Namun, itu tadi, Menko Airlangga realistis, tidak berharap seluruh simpanan emas di bawah bantal itu bisa ditarik ke bullion bank, bisa 20 persen saja dari 1.800 ton itu bisa ditarik, sudah sangat bagus bagi dua bullion bank milik negara tersebut.

“Sekarang tugas Bank BSI dan Pegadaian yang telah memiliki layanan bullion, bagaimana mencari cara yang bisa menodorng masyarakat percaya menitipkan aset emasnya di sistem keuangan,” ujar Airlangga.

Baca juga: Setahun Kegiatan Usaha Bullion, Pegadaian Kelola 147,8 Ton Emas, BSI 22,5 Ton

Ia menambahkan, arah kebijakan ekonomi 2027 menempatkan bullion dan IBMA sebagai salah satu fokus strategis dalam revitalisasi sektor ekonomi, bersama Bursa Komoditas Mineral dan pembentukan Indonesia Reference Price.

Perkembangan kinerja kegiatan usaha bullion menunjukkan, fondasi pasarnya telah terbentuk. Agenda bank emas telah bergerak dari pembentukan regulasi menuju pemanfaatan yang makin luas, sehingga tahap berikutnya adalah pendalaman kualitas pasar yang diarahkan pada likuiditas, transparansi pembentukan harga, standardisasi, tata kelola, dan integrasi ekosistem.

Airlangga menyebutkan, Indonesia mempunyai sumber daya alam yang kaya, namun banyak yang belum mempunyai ekosistem utuh. Salah satu yang sudah mempunyai ekosistem utuh adalah sektor emas.

Mulai dari pertambangan, refinery, manufaktur, lembaga jasa keuangan, produk keuangan termasuk Exchange-Traded Fund (ETF), perdagangan, industri perhiasan yang punya sentra sendiri di Surabaya Jawa Timur, dan infrastruktur pasar.

Baca juga: Solusi Emas Hijrah Bank Muamalat Tumbuh 11 Kali Lipat

Penguatan tata kelola dan daya saing ekosistem bulion Indonesia harus menjadi agenda prioritas, dan dapat diwujudkan melalui beberapa hal.

Pertama, membangun arsitektur pasar emas yang terintegrasi, yaitu kegiatan usaha bullion, refinery dan manufaktur, perdagangan fisik, bursa komoditas, ETF Emas, kliring, dan settlement.

Bursa Mineral dan Komoditas Strategis yang mulai berjalan 1 Januari 2027 diarahkan untuk memperkuat price discovery dan pembentukan Indonesia Reference Price.

Kedua, memperkuat standar, data, dan traceability, dengan IBMA mendorong gold registry, Indonesia Gold Traceability System, kajian rantai pasok, standardisasi Responsible Gold, serta database dan statistik industri sebagai fondasi pasar yang kredibel dan transparan.

Ketiga, meningkatkan kualitas debottlenecking kebijakan, dengan IBMA menyusun policy issue map berdasarkan urgensi, dampak ekonomi, keterkaitan hulu-hilir, dan alternatif penyelesaian, sehingga kajian regulasi menjadi basis penyelesaian kebijakan yang lebih cepat, terukur, dan implementatif.

Baca juga: Cadangan Emas Indonesia Diperkirakan 3.800 Ton

Keempat, memperkuat edukasi, literasi, dan positioning internasional, dengan IBMA membangun signature conference/expo berskala internasional yang menjadi ikon asosiasi dan diselenggarakan secara berkala.

“Pemerintah berharap, kehadiran IBMA memperkuat koordinasi yang dibangun sejak awal menuju proses bulion yang berkesinambungan dari hulu dan hilir,” tutup Menko Airlangga.

Hadir dalam acara, selain para petinggi Kemenko Perekonomian dam BP BUMN serta Ketua Umum IBMA Selfie Dewiyanti, juga Central Banks and Public Policy Lead (Singapore)-World Gold Council APAC Kway Guan Tan, President Malaysia Gold Association (MGA) Dato’ Seri Louis Ng Chun Hau, serta dirut BSI dan 10 dirut founding members IBMA lainnya.

Berita Terkait

Ekonomi

Berita Terkini