Triwulan II Defisit Neraca Pembayaran RI Menyusut Drastis, Ditopang Investasi Asing
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026mencatat defisit USD0,9 miliar, menyusut drastis dibanding defisit pada triwulan I 2026 sebesar USD9,1 miliar.
Neraca pembayaran (balance of payments) terdiri dari neraca transaksi berjalan (current acoount) yang mencatat arus barang dan jasa, neraca modal dan finansial (capital and financial account) yang merekam investasi dan pinjaman, serta pos cadangan devisa yang dikelola bank sentral untuk menyeimbangkan transaksi internasional.
Current account mencatat hasil dari kegiatan ekonomi riil sehari-hari. Yaitu, neraca b (selisih nilai ekspor dan impor barang fisik (migas dan nonmigas), neraca jasa (transaksi ekspor-impor jasa seperti transportasi, asuransi, dan pariwisata, pendapatan primer (hasil investasi, bunga utang, dividen, dan upah tenaga kerja), pendapatan sekunder (transfer berjalan atau sepihak seperti remitansi pekerja migran dan hibah luar negeri).
Capital and Financial Account mencatat aliran modal lintas batas:. Terdiri dari neraca modal (transfer modal dan pelepasan aset non-produksi seperti hak paten atau lisensi), investasi langsung/FDI (penanaman modal asing), investasi portofolio (jual beli surat berharga seperti saham dan obligasi), dan investasi lainnya (pinjaman dan simpanan perbankan).
Mengutip keterangan Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Jumat (21/8/2026), transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi, karena kenaikan defisit neraca perdagangan migas menyusul lonjakan impor migas, dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas dari aktivitas ekspor impor.
Sementara transaksi modal dan finansial mencatat surplus, ditopang peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio, sehingga membuat defisit NPI menyusut tajam.
Sedangkan posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 tercatat sebesar USD145,6 miliar, setara pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Baca juga: Wah! Triwulan Satu Neraca Pembayaran RI Defisit Besar
Denny menjelaskan, transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak, sejalan dengan tingginya harga minyak dunia.
Surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah, dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi.
Sementara defisit neraca pendapatan primer meningka, sejalan dengan pembayaran pendapatan primer. Sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan triwulan I 2026.
Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada triwulan II 2026 tercatat sebesar USD12,5 miliar atau 3,3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), jauh melebar dibandingkan defisit pada triwulan I sebesar USD3,6 miliar (1,0 persen PDB).
Sementara transaksi modal dan finansial mencatat surplus, didukung peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga dapat menopang kinerja NPI.
Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan surplus pada triwulan I, dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi RI.
Investasi portofolio juga mencatat surplus yang meningkat, seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik seperti SBN dan SRBI. Sedangkan investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah.
Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial mencatat surplus sebesar USD12,0 miliar pada triwulan II 2026, meningkat tinggi dibanding triwulan I 2026 yang defisit sebesar USD4,8 miliar.
Ke depan BI memperkirakan, prospek NPI tetap baik sehingga mendukung ketahanan eksternal perekonomian RI. Defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah, didukung perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, dan dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).
Transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap surplus, ditopang berlanjutnya aliran masuk modal asing seiring imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik dan prospek ekonomi Indonesia yang positif.