Pembangunan Gedung Harus Memperhatikan Potensi Bencana
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Basuki Hadimuljono menghimbau semua pihak agar dalam melakukan pembangunan memerhatikan potensi bencana alam. Setiap proyek yang dibangun harus menyesuaikan dengan kondisi alam atau lingkungan. Ia mencontohkan soal perubahan terhadap pola dan intensitas hujan. Agar tidak menimbulkan banjir pembangunan harus mengoptimalkan reservoir alami misalnya danau, situ, palung sungai, maupun penampung air buatan berupa embung, kolam retensi, atau bendungan.

“Ini diperlukan untuk menampung intensitas hujan yang meningkat sehingga bisa meredam banjir dan di sisi lain menyimpan cadangan air untuk musim kemarau yang lebih panjang,” ujar Basuki saat bicara pada rapat koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Bogor, Selasa (8/9).
Selain itu institusi-institusi pemerintah dan non pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana. Basuki juga mengajak semua pihak aktif menyusun pembaharuan peta gempa untuk dijadikan patokan dalam setiap pembangunan. Peta gempa terakhir dikeluarkan tahun 2010.
Pada kesempatan berbeda Basuki juga menghimbau agar pembangunan gedung tinggi jangan hanya memerhatikan estetika. Tidak kalah penting perhatian terhadap keamanan penghuni gedung, misalnya jalur evakuasi ketika terjadi bencana. Ia menilai rancangan tangga darurat di sebagian besar gedung kurang tepat. Tangga tersebut dibuat di bagian dalam atau di samping lift sehingga bila terjadi kebakaran penghuni gedung sulit untuk mengakses karena tertutup asap.
Basuki menyebut tangga darurat di luar gedung mengurangi aspek estetika, tapi itu diperlukan. Setiap gedung sebaiknya juga dilengkapi helipad di rooftop untuk evakuasi kalau ada yang sakit atau lainnya. “Hal-hal seperti ini harus mulai dipikirkan termasuk bangunan rumah susun sederhana milik (rusunami) maupun rumah susun sewa (rusunawa),” tandasnya.