Premi Risiko Investasi Indonesia Kian Rendah, Tapi Modal Asing Malah Kabur
Ketidakpastian makin menjadi ciri perekonomian dewasa ini. Hubungan sebab akibat makin tidak berlaku. Menganalisis peristiwa ekonomi makin sukar, karena tidak selalu jelas dan rasional faktor-faktor pemicunya.
Misalnya, Bank Indonesia (BI) melaporkan, Kamis (5/6/2025), premi resiko investasi atau credit default swap (CDS) Indonesia 5 tahun, per 4 Juni 2025 tercatat sebesar 76,99 bps. Turun dibanding dengan 30 Mei 2025 sebesar 78,12 bps. Angka itu sudah mendekati premi CDS Indonesia 5 tahun pada 20 Juni 2024 yang tercatat sebesar 76,04 bps.
Namun, hal itu tidak membuat aliran modal asing menderas masuk (beli neto), tapi sebaliknya malah pada kabur (jual neto). Modal asing paling banyak hengkang masih di pasar saham dan surat utang terbitan BI. Asing hanya bertahan mengekep Surat Berharga Negara (SBN) terbitan Pemerintah Indonesia.
Berdasarkan data transaksi 2 – 4 Juni 2025, BI mengungkapkan, nonresiden atau asing jual neto Rp4,48 triliun. Terdiri dari jual neto Rp3,98 triliun di pasar saham dan Rp5,69 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta (dikurangi) beli neto Rp5,19 triliun di pasar SBN.
Sedangkan selama tahun 2025, berdasarkan data setelmen s.d. 4 Juni 2025, nonresiden tercatat jual neto Rp46,67 triliun di pasar saham dan Rp19,34 triliun di SRBI, serta beli neto Rp46,70 triliun di pasar SBN. Dengan demikian secara keseluruhan selama tahun ini sampai 4 Juni asing jual neto atau hengkang Rp19,31 triliun.
CDS adalah kontrak antara penjual dan pembeli CDS, dengan membayar biaya (premi tetap) selama periode tertentu (maturity) ditambah kompensasi tertentu bila terjadi gagal bayar.
Premi CDS yang tinggi mengindikasikan para investor menaikkan pembelian asuransi kredit dari sebuah institusi atau negara penerbit surat utang, karena menilai situasi investasi saat ini lebih berisiko daripada sebelumnya.
Dengan kata lain, premi CDS yang tinggi mencerminkan kekhawatiran investor yang juga tinggi terhadap risiko investasi di Indonesia, baik karena faktor eksternal maupun internal. Dan sebaliknya, premi CDS yang rendah menunjukkan kekhawatiran investor yang rendah terhadap risiko investasi di Indonesia.