Senin, Mei 25, 2026
HomeBankSiasat BI Stabilkan Perekonomian

Siasat BI Stabilkan Perekonomian

Terus melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika salah satunya disiasati dengan kenaikan suku buga. Bank Indonesia (BI) sendiri saat ini memprioritaskan stabilitas rupiah melalui kenaikan suku bunga atau BI Rate sebesa 50 bps menjadi 5,25 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026.

Kenaikan BI Rate ini menandai kenaikan suku bunga pertama dalam dua tahun terakhir di tengah tekanan yang semakin besar terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya risiko imported inflation.

Kebijakan ini mencerminkan pergeseran fokus BI yang semakin menitikberatkan pada stabilitas pasar keuangan dan stabilitas eksternal, terutama setelah rupiah sempat melemah mendekati Rp17.700 dibandingkan dollar Amerika.

Dikutip dari laporan Daily Economic and Market Review Bank Mandiri Senin (25/5), situasi geopolitik global dan stance higher-for-longer yang menekan emerging markets. Tekanan eksternal menjadi salah satu faktor di balik perubahan kebijakan BI tersebut.

Ketegangan geopolitik antara Amerika dan Iran juga telah meningkatkan risiko gangguan rantai pasok global, mendorong kenaikan harga komoditas, dan memperbesar tekanan inflasi dunia.

Baca juga: BI Rate Naik, BI Lansir Kebijakan Ini Agar Bunga Tetap Rendah dan Bank Tetap Semangat Salurkan Kredit

BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 melambat ke sekitar 3,0 persen sementara inflasi global berpotensi meningkat ke 4,3 persen yang akan mendorong suku bunga global bertahan lebih tinggi lebih lama (higher-for-longer).

Di tengah tekanan global tersebut, BI memperkuat strategi stabilisasi eksternal sekaligus menjaga ketahanan sektor keuangan domestik. BI meningkatkan daya tarik instrumen SRBI melalui kenaikan rate yang lebih agresif, memperluas instrumen pasar valas, serta memperkuat transaksi mata uang lokal termasuk CNH-Rupiah untuk menarik aliran modal asing. Hingga 18 Mei 2026, arus masuk portofolio asing tercatat mencapai 5,5 miliar dolar, terutama ke SRBI dan SBN.

Baca juga: BI Naikkan BI Rate dan Yield SRBI, Rupiah Menguat, Modal Asing Kembali Masuk

Ke depan BI diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan yang cenderung pro-stability selama volatilitas global, harga minyak, yield US Treasury, dan penguatan dollar masih berada pada level tinggi. Fokus utama BI dalam jangka pendek kemungkinan tetap pada menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan imported inflation, serta mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik agar aliran modal asing tetap terjaga.

Meski fundamental domestik dan sektor perbankan masih relatif solid, ruang pelonggaran kebijakan moneter diperkirakan masih terbatas dalam waktu dekat. Namun demikian apabila tensi geopolitik global mulai mereda dan arus modal asing kembali masuk, maka BI berpotensi mengadopsi kebijakan yang lebih seimbang antara stabilitas dan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi pada semester kedua 2026.

Berita Terkait

Ekonomi

Pakar UGM: Narasi Optimis Pemerintah Tidak Sesuai dengan Realitas

Terdapat jarak yang makin lebar antara narasi optimis pemerintah...

Menkeu: Supaya Ekonomi Bisa Tumbuh 8 Persen, Cukupi Likuiditas Perbankan

Pemerintah menyiapkan dua mesin pertumbuhan dengan menggabungkan kekuatan belanja...

Kebijakan WFH Sehari dalam Seminggu Berlanjut Juni-Juli

Pemerintah masih mempersiapkan sejumlah regulasi lintas kementerian/lembaga, terkait kebijakan...

Prabowo Targetkan Ekonomi 2027 Tumbuh Hingga 6,5 Persen

Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan...

Berita Terkini