HousingEstate, Jakarta - housingestate.id, Jakarta – Banyak cara yang bisa dilakukan berbagai pihak terkait (stake holders) agar bisnis properti tidak terlalu suram dan tetap tumbuh pasca kenaikan harga BBM. Bank Indonesia (BI) misalnya, diharapkan tidak terlalu reaktif menaikkan bunga acuan hingga melebih 4 persen sampai akhir tahun ini. Kalaupun ada kenaikan bunga acuan lagi, cukup satu kali saja smpai akhir tahun ini dan tidak melebihi 25 basis poin.

Sedangkan bank-bank penyalur KPR/KPA juga demikian. Diharapkan tidak serta merta menaikkan bunga kredit begitu BI menaikkan bunga acuan. Dengan demikian laju pemasaran produk KPR/KPA perbankan yang saat ini masih di bawah 10 persen, tidak terkoreksi makin rendah.

Para developer properti juga diharapkan mengambil langkah yang sama. Tidak buru-buru menaikkan harga jual sebagai reaksi terhadap kenaikan harga bahan bangunan yang lebih tinggi, pasca kenaikan harga BBM. “Baik bank maupun pengembang harus legowo menurunkan profit marginnya untuk sementara, demi menjaga pemulihan pasar properti yang saat ini sudah berjalan,” kata Direktur Eksekutif School of Property Panangian Simanungkalit.

Bahkan, pengembang dan bank justru harus lebih kreatif menawarkan berbagai insentif yang memungkinkan bunga KPR bisa jauh lebih rendah selama beberapa tahun pertama, untuk menarik konsumen agar merealisasikan pembelian rumah. Lebih dari 75% pembelian rumah menggunakan kredit bank.

Saat ini kebanyakan konsumen, terutama di segmen menengah, masih menahan diri merealisasikan pembelian produk-produk bernilai besar seperti rumah, kendati sudah memiliki tabungan untuk membayar uang mukanya. Antara lain karena masih fluktuatifnya kondisi ekonomi, dan belum pulihnya penghasilan mereka seperti sebelum pandemi.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Shinta Kamdani seperti dikutip Kontan.co.id, Minggu (4/9/2022), menyatakan, kenaikan harga pangan yang tinggi yang sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu, lalu diikuti kenaikan harga BBM awal September, pasti memukul daya beli masyarakat.

Karena itu masyarakat pun melakukan penyesuaian kembali terhadap pola konsumsinya. Untuk sementara mereka akan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar sambil melihat perkembangan situasi. Sebagian besar akan menahan diri dan belum confident membeli produk-produk bernilai besar seperti rumah, mobil, liburan, dan sejenisnya, karena melihat perekenomian yang belum stabil dan masih fragile.

Masalahnya, dengan kenaikan harga BBM yang demikian tinggi, rata-rata lebih dari 26 persen (16 – 32 persen tergantung jenis BBM), apakah stake holders seperti BI, pengembang, perbankan, dan juga produsen bahan bangunan mau menjalankan apa yang disarankan di atas? Merekalah yang bisa menjawabnya. Belum apa-apa, salah satu eksekutif di perusahaan developer raksasa tbk misalnya, menyatakan, dalam 1-2 bulan ke depan mereka pasti akan menaikkan harga jual. Yoenazh